”Jadi Supporter All England” Catatan Perjalanan di Inggris-1
Dimuat di Radar Jogja, Kamis 27 November 2003
|
Ninda Nindiani atau yang lebih populer dengan nama Ninda Karisa, baru saja menyelesaikan program Master “International Broadcast Journalism” di University of Central England in Birmingham, Inggris. Mantan presenter Radio Geronimo FM dan TVRI Jogja itu mendapatkan beasiswa Chevening Awards selama satu tahun dari Foreign and Commonwealth Office yang bekerjasama dengan the British Council. Untuk pembaca Radar Jogja, ia pun menuliskan catatan perjalanan dan pengalamannya selama berada di sana. |
Selama satu tahun tinggal di Birmingham, banyak hal yang mengingatkan saya pada tanah air. Ada sudut-sudut tertentu dari kota ini yang mirip Jakarta dengan gedung-gedung tingginya. Kadang serasa di Simpang Lima Semarang karena di Birmingham juga ada simpang lima Five Ways. Sementara itu suasana kuliah bersama students dari berbagai negara, dan banyaknya pertunjukan seni di kota ini, mengingatkan saya pada Jogja.
Birmingham selalu menjadi salah satu kota yang disinggahi para artis dunia dalam konser mereka. Yang sempat saya tonton adalah konser Enrique Iglesias, Destiny’s Child, dan Bryan Adams tahun lalu. Kota ini juga mempunyai orkestra lengkap dengan sebuah gedung yang megah untuk pertunjukan musik klasik. Pertunjukan seni juga sering diselenggarakan di Warwick Castle, salah satu castle terindah di Inggris yang bisa ditempuh kurang lebih 25 menit dari Birmingham. Selain itu gedung-gedung teater juga tidak pernah sepi dari pertunjukan sepanjang tahun. Saya sempat menonton drama musikal “Beauty and The Beast”, “Oh! What a Night”, dan “Miss Saigon” yang memang sangat mempesona.
Saya sempatkan juga untuk melihat sudut-sudut Birmingham yang lain, seperti pabrik pembuatan coklat Cadbury yang terkenal itu. Asik juga rupanya mengikuti tur keliling pabrik yang dilengkapi dengan informasi multimedia tentang sejarah ditemukannya tanaman coklat hingga masuknya coklat ke Inggris, cara pembuatan coklat hingga menjadi minuman dan permen coklat yang begitu digemari di seluruh dunia. Lebih asik lagi saat dibagikan coklat gratis beberapa kali, dari yang batangan sampai coklat-cair yang sangat disukai anak-anak. Tapi terus terang, begitu keluar pabrik, saya nggak bisa lagi makan coklat sampai sebulan kemudian. Mabuk coklat…he…he…
Salah satu tempat yang tidak bisa saya lupakan di Birmingham adalah National Indoor Arena (NIA). Di sanalah saya nonton konser Enrique Iglesias, Destiny’s Child, dan kejuaraan bulutangkis All England 2003. Rupanya memang tiap tahun All England digelar di NIA, dan saya merasa sangat beruntung bisa ikut menjadi supporter, menyemangati Sigit dan Chandra hingga mereka menjuarai All England tahun ini.
Saya memang penggemar berat bulu tangkis, tapi belum pernah nonton langsung pertandingan di lapangan. Jaman Rudi Hartono dan Lim Swie King berjaya di All Englad dulu, saya selalu ‘heboh’ di depan televisi, dan tidak pernah membayangkan bisa menjadi supporter yang ‘histeris’ di pinggir lapangan suatu saat kelak. Makanya kesempatan untuk nonton babak semi-final dan final All England bulan Februari lalu tidak saya sia-siakan. Sayangnya yang masuk babak tersebut hanya ganda putra, Sigit dan Candra.
Karena tempat duduk para supporter Indonesia terpisah-pisah, seringkali teriakan kami kurang ‘kompak’ dan tertutup oleh teriakan supporter Korea. Kebetulan Indonesia bertanding melawan Korea di semi-final maupun final. Untungnya kami mendapat simpati dari penonton lainnya, baik dari Malaysia maupun bule-bule yang memadati tempat duduk.
Saya ingat suatu kali kami sedang ‘tidak berkutik’ karena begitu kerasnya teriakan supporter Korea. Ketika mereka sedang jeda sebentar dan suasana agak sunyi, tiba-tiba ada seorang anak kecil bule yang berteriak dengan suaranya yang cadel: “Indoneciaaaa“…. Waaaah kami langsung menyambut dengan gegap gempita, dan kalahlah suara supporter lawan…he..he… Saya merasakan betul suasana ‘heroik’ saat itu, baik perjuangan Sigit dan Candra maupun kami para supporter yang datang dari seluruh penjuru Inggris.
Ngomong-ngomong soal ‘heroisme’, ada satu hal yang saya ingat tentang warga Birmingham. Selama ini Birmingham disebut sebagai kota multikultural dan kota besar kedua setelah London. Warga Birmingham cukup bangga akan predikat ini, sehingga mereka begitu ‘berang’ ketika beberapa bulan yang lalu Manchester berusaha ‘merebut’nya.
Rupanya, setelah kesuksesan Manchester menjadi tuan rumah acara akbar Commonwealth Game atau pesta olah raga negara-negara Persemakmuran, maka sebuah lembaga membuat angket tentang kota mana yang saat ini dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah London. Ternyata Birmingham kalah pamor, sehingga Manchester lah yang mendapat suara lebih banyak. Hasil polling inilah yang dipublikasikan secara luas oleh Marketing Manchester, lembaga pemasaran kota tersebut.
Semua media di Birmingham kemudian mengulas masalah ini dan berusaha mendapatkan sebanyak mungkin pendapat masyarakat. Rame lah pokoknya. Tiba-tiba banyak orang yang merasa ‘handarbeni’ Birmingham dan mau membelanya mati-matian. Mereka mencari-cari ‘kelemahan’ Manchester : yang city centre-nya nggak seluas Birmingham lah, yang tokoh terkenalnya cuma David Beckham lah. Saya agak geli mendengar siaran radio dan nonton televisi seharian itu. Mereka kok jadi ‘heroik’ sekali?
Saya jadi berpikir, apa perlu ya Jogja disaingi kota lain sebagai kota pelajar atau kota budaya, atau DIY disaingi keistimewaannya, biar muncul lagi ‘sense of belonging‘ warganya ? Biar “Jogjaku aman, bersih, dan nyaman” nggak hanya slogan semata ?
Bersambung…
Kategori: Jalan-jalan