Mengisi Kesementaraan

j0437358.jpg

Sebulan ini hati saya teraduk-aduk karena beberapa kejadian yang membuat saya kaget, marah, sedih, haru, dan merasa tak berdaya. Teraduk-aduknya perasaan ini kemudian menggiring saya pada perenungan akan ”perempuan”, ”kematian”, dan ”kehidupan”.

Hmmmm…serius banget ya… Mungkin sebagian orang nggak punya perasaan dan perenungan yang sama dengan saya. Ya nggak pa-pa. Saya hanya mau ceritakan ini tanpa niat mempengaruhi, menggurui, dan menghakimi.

Kejadian-kejadian yang membuat saya tercekam akhir-akhir ini memang berhubungan dengan kematian. Yang pertama adalah hukuman mati yang dijalani Sumiarsih dan Sugeng. Lepas dari setuju atau nggak setuju dengan hukuman mati, dan saya nggak kenal sama sekali dengan keduanya, tapi peristiwa ini bisa membuat hati saya seperti ”diperas”.

Tiba-tiba saya sangat ingin tahu gimana perasaan Sumiarsih, sebagai perempuan yang jalan hidupnya luar biasa berliku, dan berujung dengan kenyataan hidupnya harus diakhiri bersamaan dengan anaknya.

Saya mengikuti tulisan di Jawa Pos tentang Sumiarsih, tentang masa mudanya, ”karir”nya, perlakuan-perlakuan yang harus diterimanya, motivasinya untuk merencanakan pembunuhan, dan penantiannya selama 20 tahun yang berujung pada ”pembebasannya”.

Tragis? Entahlah. Airmata saya tumpah tanpa saya bisa mengetahui ini tangis untuk apa. Campur aduk yang ada di hati saya.

Kejadian kedua adalah pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. Semua orang pasti terkaget-kaget mendapatkan informasi mengejutkan yang terus-menerus disampaikan oleh media.
Kasus ini terus diikuti dengan antusias tiap hari dan dinantikan perkembangannya. Saya tercenung melihat wajah ibu Ryan dan mencoba memahami perasaannya. Ada efek kedukaan yang sangaaaaat dalam yang mempengaruhi saya.

Lepas dari si ibu ini ikut bersalah atau tidak, saya agak marah melihat tayangan di Metro TV beberapa hari lalu (mungkin juga ada di media lainnya). Saya terganggu dengan satu kalimat yang dibacakan oleh narator tayangan itu, yang mengatakan bahwa ibu ini pada masa mudanya dikenal genit dan berganti-ganti pasangan.

Berapa orang sih yang cerita begini? Seisi kampung? Ini cerita beberapa orang saja atau fakta? Relevan kah dengan kasus Ryan? Saya kok merasa media jadi berlebihan ya. Sadar nggak kalau pemirsa jadi tergiring opininya untuk turut menghakimi ibu Ryan adalah perempuan yang ”nggak bener”? Hmmm…sedih….

Kejadian ketiga adalah rekaman suara yang dianggap rekaman percakapan pilot dan co pilot Adam Air menjelang jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Lepas dari rekaman itu benar atau palsu, dan kalau benar pun apakah etis mempublikasikannya, saya bener-bener tercekam mendengarnya.

Saya nggak kenal semua penumpang dan awak pesawat. Tapi saya ikut menangis membayangkan perasaan para istri pilot dan co-pilot serta seluruh keluarga korban. Ada rasa ketidakberdayaan untuk mempertahankan orang-orang yang kita cintai.

Kali ini perasaan saya terlempar kembali ke dua kejadian di atas. Saya jadi merasa ada di posisi mereka yang menghadapi maut, ada kepanikan, ada kepasrahan, baik yang dihukum mati, yang dibunuh, maupun yang mengalami kecelakaan.
Tiba-tiba ada banyak hal yang berkecamuk di hati saya, intinya adalah tentang ”kelahiran”, ”kehidupan”, dan ”kematian”.

j0356818.gif

Perasaan ini diperkuat lagi dengan adanya kejadian terakhir, pembunuhan mantan pejabat Depkeu, istrinya, dan pembantu rumah tangganya di Menteng Jakarta (02/08). Si pembunuh mengatakan bahwa ia merampok keluarga tsb untuk membayar biaya kelahiran anaknya. Karena kepergok maka ia membunuh.

”Jleb”, ada yang menusuk hati saya. Gimana perasaan keluarga korban dan istri si pembunuh? Pasti sangat berat menerima kenyataan yang mengguncang ini.

Perasaan saya campur aduk lagi, ada ”kelahiran” dan ada ”kematian”. Di antaranya, ada ”kehidupan”, itulah saat dimana kita diberi pilihan-pilihan untuk menjalaninya, mengisinya, memanfaatkanya.

Artikel di Kompas Minggu 3 Agustus 2008 yang memuat wawancara dengan Prof drg Etty Indriati PhD menarik perhatian saya. Beliau adalah perempuan ”perkasa”, seorang guru besar Antropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Keahlian beliau sering dibutuhkan oleh polisi dan dokter forensik untuk menyempurnakan temuan identifikasi forensik, termasuk identifikasi korban kecelakaan pesawat Garuda di Bandara Adisucipto 7 Maret 2007.

Pengantar dari sang pewawancara, Maria Hartiningsih, sangat eye catching :
”Begitu seringnya menyaksikan kematian, yang telah terurai dari yang sehari sampai jutaan tahun, membuat Prof drg Etty Indriati PhD semakin menghayati bagaimana alam bekerja melalui kehidupan dan kematian dan seluruh fenomena diantaranya”

Memang sangat menarik isi wawancara ini, termasuk kalimat bu Etty tentang kehidupan :
”Yang sangat terasa dari hidup ini adalah ”kesementaraan”… Yang sebentar itu kita mau apakan? Apa mau mengeruk energi alam sebanyak-banyaknya untuk keluarga sendiri, kelompok sendiri, atau mau ikut memberikan kesadaran kepada sebanyak-banyaknya orang bahwa kita tidak boleh serakah dan mau merawat produsen ini, flora dan fauna… Kalau kita benar-benar memahami kesementaraan, kita tidak akan menumpuk sedemikian rupa.”

Tiba-tiba perasaan sesak itu terurai perlahan. Banyak kejadian yang menekan akhir akhir ini, tapi mencoba memaknai ”kesementaraan” membuat perasaan saya lebih ringan.

Lebih ringan lagi rasanya, saat saya nonton film yang dibintangi Drew Barrimore (kalau nggak salah judulnya ”50 First Days”) tentang seorang perempuan yang karena kecelakaan kemudian mengalami trauma di otak, berakibat apa yang terjadi hari ini akan dilupakannya besok pagi karena tidur semalam seolah menghapus semua memori hari itu.

Sebuah film ringan tapi cukup manis menggambarkan betapa orang-orang terdekatnya selalu berusaha memberikan yang terbaik meski akan dilupakan esok hari. Bukan kesia-siaan, melainkan keindahan, karena tiap orang berusaha memaknai hari demi hari dalam kehidupan perempuan yang dicintai ini, dan bagi mereka sendiri.

Tidak pernah ada yang sia-sia dalam cinta kasih. Mungkin inilah cara memaknai kesementaraan.

Ada 14 komentar : “Mengisi Kesementaraan”

  1. Demi menggagas perenungan antara kehidupan dan kematian, perkenankan daku mengutip puisi indah Kahlil Gibran …
    “Karena maut dan kehidupan itu satu adanya.
    Sama seperti sungai dan samudra satu jua
    Karena mati itu tak lain dari berdiri telanjang dalam badai
    serta bersatu dengan matahari
    Dan berhenti bernafas tak lain dari pada menceraikan nafasmu
    dari pasang surut yang tak kunjung henti
    Hingga kau dapat naik serta mekar mencari Ilahi”

    Jadi, diantara jarak kehidupan dan kematian yang sangat tipis itu, tersebutlah sebuah kesementaraan, yang semestinya hanya disisi dengan cinta kasih. Biar dunia makin indah. Dan memberi keindahan pada dunia bukanlah suatu kesia-siaan.

  2. nyawa seakan tidak ada harganya…
    bayi baru lahir pun dibunuh oleh ibunya sendiri
    belum manusia dewasa yang dihabisi oleh manuisa lain..

    apakah nilai kemanusiaan kita hanya sebatas materi?

    lalu masalah media yg mem-blow up sebuah kasus..tidak jarang karena kejar tayang dan punya nilai jual sebuah berita..
    media juga ikutan beropini, yang bisa-bisa menggiring pembaca atau penonton ke sebuah persepsi yang belum tentu kebenarannya..

    toh, sekarang televisi sudah menjadi dewa, yang setiap saat tak dapat ditinggalkan..

  3. The movie title is ‘50 first dates’. The (surprisingly) best Adam Sandler’s mocie so far =p.

  4. life is like a box of chocolate, … you never know what’s in it. (forest gump)

  5. Thanks Aries untuk ralatnya. Waktu itu nonton filmnya udah telat jadi saya gak inget judulnya. Adam Sandler seru juga ya di film itu. Makasih sekali lagi

  6. […] hari lalu ketika seorang teman dekat berkisah tentang kesementaraan dan kesia-siaan, hatiku seakan menyatu dengannya. Memang, jarak […]

  7. wow. saya harus berterima kasih pada novi karena sudah me link tulisan ini sehingga saya sampailah…

  8. Vira, selamat datang …
    Ya, terimakasih saya juga untuk Novi. Terimakasih untuk tulisan2 yang hebat, yang menginspirasi banyak orang.
    Untuk yang belum pernah baca, silahkan mengeksplorasi blog nya, Novi The Explorer (ada di blogroll)

  9. wah jeruuuuuuuuuuuuu mbak, butuh perenungan dan helaan nafas panjang..antara percaya dan tidak sehingga kadang hanya bisa komentar ” masak iya sih” “kok bisa”..
    nah giliran kita yang menghadapi sendiri, seolah mau tak mau harus dihadapkan pada realita harus memilih untuk melangkah terus krn tak bisa surut langkah ke belakang..tp juga tak bisa bertahan di tangga yang sama krn di sekeliling kitapun hanya dinamika yang ada. bahkan ketika memutuskan untuk bertahan….itu sudah pilihan yang diambil atas realita di depan mata…
    ya dan hakekatnya semua hanyalah sementara…..(haduuuh..ni ngomongin apa yah…..hwehehehe..)

  10. wah..tutik semakin dewasa semakin bijak..

  11. hwehehe..ngece..masak iya seeeh..perasaan biasa aja deh..tp bersyukurlah… dirimu tidak membuatku jadi tambah sesat..hwahaha..(peace mas benni, becanda loh..) dirimu tetaplah sosok suhu, kakak dan teman terbaik…eh da salam dari bu dyah mas, untukmu…

  12. Mbak Ninda,

    Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan kematian itu ada di depan mata saya. Ibu saya yang semula masih ‘ada’, dalam menit berikutnya sudah ‘tiada’. Tuhan memanggil beliau begitu lembut, hingga kami yang menunggui di sisi beliau pun tak tahu, kapan nafas terakhir itu berhembus ….
    Sia-sia segala upaya untuk menahan jiwa itu meninggalkan raga. Jika kematian telah datang, tak ada satu cara pun untuk mencegahnya membawa orang yang kita cintai pergi dari sisi kita.
    Kehidupan dan kematian dipisahkan oleh tirai yang tidak kelihatan : nyawa. Namun tirai yang tidak kelihatan itu memisahkan kita sehingga tidak bisa lagi saling berkomunikasi.
    Kematian adalah kemestian. Yang menyedihkan adalah apabila kematian itu disebabkan oleh tangan manusia, seperti korban Sumiarsih, seperti Sumiarsih sendiri …

  13. Mbak Tuti, turut berduka cita… Maaf saya baru dengar kabar ini. Saya yakin Ibunda tetap hidup di hati mereka yang mencintainya.

    Salam cinta dan doa kami semua di sini untuk keluarga.

  14. Salam Kenal mbak Ninda
    blog anda memang innerworld, tetapi jika pembaca mau melakukan kontemplasi, blog anda bisa menjadi jendela makrokosmos.

    dalam ranah spirit
    untuk yg sudah jengah dengan iming-iming dan ancaman dogma, anda dapat share pada kami

    mengupas rahasia kematian memang sangat sulit, bahkan ayat-ayat mengungkap rahasia kematian menjadi hamparan yang membuat miris, takut, ngeri.
    kematian layaknya perpisahan yg mutlak, fatal dan amat jauh…diluar jangkauan kehidupan dunia
    rahasia kelahiran hanya dapat diungkap manakala manusia sudah hidup dalam rahim ibu, itupun amat kecil.

    lain halnya dengan ajaran orang2 yg menurunkan kita zaman dahulu..begitu indah mengungkap sejatinya kematian dan kelahiran..
    kematian adalah sejatinya hidup, dan begitu dekat “mereka” ada dan hadir di antara kita yg masih hidup ini. begitu dekat tak berlaku ruang waktu, kapan pun “mereka” mau, dapat berada di antara anak turunnya yg telah ditinggalkan di dunia ini.
    hanya saja..dogma-dogmalah yg telah seolah “memisahkan” kita dari mereka nun jauh entah di atas langit…
    padahal..jarak yg begitu jauh itu, semata-mata karena seseorang tak mampu memahami hidup sejati,
    tak mampu membaca bahasa Tuhan, tak kuasa mencermati rahasia alam.
    manusia sudah kalah dengan hewan yg masih memiliki indra penembus rahasia kegaiban….
    manusia sudah tak mampu mendeteksi akan terjadi bencana, sedangkan binatang tetap awas membaca bahasa alam..
    semua itu, HANYA karena jasad manusia diperkaya dengan nafsu. sedangkan binatang, tak memilikinya…
    itulah…salah satu makna..bahwa manusia mahluk yang “paling sempurna” yg kalah dengan ketajaman indera binatang…tapi manusia sudah terlanjur sombong…
    lantas perlukah manusia berguru pada binatang…?
    pasti tak akan mampu, karena pelajaran yg akan diberikan terlalu berat bagi mausia…yg sudah bebal.
    manusia jahat bukan seperti binatang…yg bersih tiada nafsu.
    manusia jahat adalah pemuja setan..?
    setan bukanlah mahluk halus yg gentayangan, atau yg bisa mengalir melalui pori dan darah….
    sejatinya setan adalah hawa nafsu kita sendiri..
    yg nyata dapat mengalir melalui darah yg mendidih, dimotori oleh jasad setan yang bernama;.. HATI.
    “setan dibelenggu” maknanya adalah jiwa kita yg suci “membelenggu” hawa nafsu kita sendiri…

    jelaslah sudah…fenomena kejahatan yg sadis diluar prikemanusiaan yg makin menghebohkan negri ini…menjadi bukti yg riil…bangsa kita tengah mengalami bencana besar moralitas. melebihi tsunami aceh dan gempa Jogja.

    Mungkin…lain ceritanya, jika bangsa kita ini masih teguh berpegang pada “local wisdom” yg menjadi “ruh” asli bangsa Indonesia,
    tetapi “ruh” itu sekarang justru dianggap kesesatan oleh dogma-dogma dan budaya impor. bangsa ini dengan arogan merasa paling hebat spiritualnya, padahal tak lebih sebagai latah semata di atas ketidaksadaran akan hakikat hidup..

    http://sabdalangit.wordpress.com

Komentar