Airku Sayang

Perjalanan saya ke Riau baru-baru ini memunculkan perenungan dan perasaan yang agak campur aduk. Ada rasa syukur, ada kekesalan, ada was-was akan masa depan, ada rasa iba, ada semangat untuk berbuat lebih baik. Segala macam perasaan itu muncul gara-gara ”A I R”.

Saya dijadualkan memberikan training ”Public Speaking” dan ”Etiket Pergaulan” untuk Women’s Club di Chevron Dumai selama dua hari. Sehari sebelumnya saya menginap di Rumbai Camp, tempat saya setahun lalu memberikan training yang sama untuk ibu-ibu Chevron di distrik Rumbai.

Perjalanan dari bandara ke Rumbai sebetulnya hanya sekitar 30 menit. Namun kali ini menjadi lebih lama karena perjalanan terhambat di sekitar jembatan Siak. Jalan macet cukup panjang di kedua sisi karena banyaknya aktivitas di sekitar sungai Siak yang terkenal kedalamannya itu sehingga bisa dilalui kapal-kapal nan besar. Tapi aktivitas kali ini lain lho, bukan aktivitas bongkar muat yang menyenangkan. Hiruk pikuk yang ada adalah pendirian tenda-tenda dan posko-posko banjir di tepi jalan, plus banyaknya orang nonton area banjir itu.

banjir-1a.jpg

Ya, memang sungai Siak meluap, juga dikabarkan terjadi dengan sungai-sungai lainnya di Riau. Saya sempat menonton di televisi dan membaca di koran, sebagian masyarakat menyalahkan Pemda, namun ada juga yang menyalahkan penduduk di lokasi banjir yang nggak mau direlokasi padahal ini kejadian rutin tiap tahun.

Hmmmm…saling menyalahkan adalah ciri kita saat bencana datang…sedih ya…. Tapi mungkin itu proses mencari penyebab dan jalan keluarnya. Sayangnya kita lebih sering hanya sampai taraf saling menyalahkan, akhirnya ya cuma ’jalan di tempat’ atau makin lama makin sengsara.

Paginya saya berangkat ke Dumai lewat darat karena pesawat-perusahaan (company plane) penuh hari itu. Sudah saya dengar bahwa jalan ke Dumai cukup jelek tapi terus terang saya nggak membayangkan akan jelek-jelek amat.

Ternyaaata s’dara-s’dara (sambil niruin gayanya mas Whani Darmawan waktu pentas dengan Teater Gandrik :) )… ada bagian jalan yang rusak parah karena lubang-lubang yang cukup dalam. Bus dan truk pun kesulitan melaluinya, nggak kebayang kalau mobil sedan sampai nyebur ke lubang itu.

jalan-7a.jpg
sopir bus terpaksa turun memeriksa kondisi jalan

Parahnya kondisi jalan ini saya rasa cukup memprihatinkan karena sudah cukup lama terjadi dan seolah-olah tidak ada usaha memperbaikinya. Padahal mungkin pemerintah sudah pusing tujuh keliling karena konon sudah berkali-kali diperbaiki tetap saja air dari rawa-rawa di sekitar jalan dan air hujan menggerus jalan ini. Ditambah lagi beban akibat kendaraan-berat yang melaluinya sungguh membuat jalan utama ini menakutkan untuk dilewati terutama di malam hari dan saat hujan turun.

Truk-truk bermuatan gelondongan kayu, kelapa sawit, dan aneka beban berat melintas tiap hari. Padahal konon jalan didirikan di atas tanah rawa yang labil, sehingga wajar kalau nggak kuat terus-menerus terbebani seperti itu. Kalaupun nggak berlubang, atau mulai longsor di sana-sini, banyak bagian jalan yang bergelombang, sehingga cukup berbahaya untuk dilewati dalam kecepatan sedang apalagi tinggi.

Saya merenung dan mencoba positive thingking, pemerintah daerah Riau pasti sudah memikirkan masalah ini. Soalnya kalau kerusakan tambah parah, atau jalan terputus, pasti rugi banget kan karena distribusi aneka kebutuhan akan terganggu. Dan saya mencoba berpikir positif lagi, pasti perbaikan atau pembangunan jalan alternatif lainnya akan segera dilakukan, kan Riau terkenal ’kaya’. Masak sih nggak punya duit untuk membangun jalan kalau pembangunan itu akan melancarkan semuanya dan makin menguatkan posisi Riau sebagai salah satu daerah terkaya di Indonesia?

Saya jadi ingat kondisi jalan-jalan di Jawa, yang nggak parah-parah amat (ada juga sih yang seperti sungai kering, bahkan Jakarta pun mengalami kerusakan jalan yang membawa korban). Tapi saya merasa patut bersyukur karena banyak jalan yang lebih mulus dibanding jalan-jalan lain di luar Jawa (saya yakin banyak jalan di daerah lain yang lebih parah kondisinya dibanding yang saya lalui menuju Dumai tadi).

Tapi rasa syukur ini juga diikuti rasa malu. Selama ini saya enak-enakan karena terlena dengan sarana, prasarana, dan fasilitas yang relatif lebih baik. Ketika melewati lokasi banjir di Pekanbaru, dan melihat penduduk berjejalan di tenda-tenda, saya membayangkan betapa sulitnya mendapatkan air bersih dan sehat, baik untuk minum, mencuci, maupun membersihkan diri. Sementara saya? Malah sering seenaknya membuang-buang air minum (kalau dapat suguhan air kemasan dalam perhelatan, sering banget nggak saya habiskan dan saya buang gitu aja), atau cuek melihat air terbuang di sekitar kita (sering nggak peduli lihat kran terus menyala di toilet-umum padahal bak-air sudah terisi penuh, misalnya).

Saya jadi ingat tulisan Ninok Leksono di harian Kompas (26/03/2008) berjudul ”Victor Hugo, Air Bersih, dan Sanitasi”, yang antara lain menyinggung peringatan Hari Air Sedunia (23/03) dan Tahun Sanitasi Dunia 2008 yang ditetapkan oleh PBB. Dalam tulisan itu juga dikatakan bahwa kesadaran akan penyediaan air bersih dan sanitasi di berbagai negara belum tinggi (yakin-bolabokin Indonesia termasuk di dalamnya).

Hari Air Sedunia mungkin berlalu begitu saja tanpa terasa gaungnya bagi kita. Tapi apa iya sih kita nggak tergugah untuk ikut melakukan sesuatu demi ketersediaan air bersih besok pagi ? (jangan bilang kita berbuat untuk anak cucu kelak ah, terlalu jauuuuh, nanti kita jadi males melakukannya karena merasa itu bukan untuk kepentingan kita sendiri).

air-3-a.jpg
himbauan hemat air di lingkungan Chevron

Saya sih inginnya ada gerakan sayang air tiap hari. Oke, nggak usah berpikir melakukan hal-hal besar dulu. Paling tidak, saya akan berusaha menyayangi air dengan cara yang paling mudah :

  1. Kalau harus beli air kemasan, saya beli yang kemasan botol saja, yang bisa saya minum seperlunya dan saya tutup kembali. Kalau beli yang kemasan gelas, suka nggak habis dan saya buang sisanya begitu saja, atau tumpah dalam perjalanan.
  2. Menutup kran rapat-rapat saat meninggalkan toilet/kamar mandi.
  3. Melaporkan sesegera mungkin kalau melihat kebocoran (tapi masalahnya saya suka nggak ngerti kepada siapa harus melapor. Agak susah memang, tapi harus dimulai lah tekad ini)
  4. Mendukung dibentuknya polisi air (walah..kalau ini mengada-ada ya? Hehe…) Yaaa, mimpi saya sih pemerintah daerah di manapun mulai menyiapkan petugas khusus yang mengamati dan mengawasi soal air ini, bisa juga memberikan reward dan punishment bagi kantor, sekolah/kampus, fasilitas umum dll menyangkut kebersihan toilet dan kebocoran air. Pemda DIY mau memulai? :)

Apalagi ya? Pasti masih banyak yang bisa kita lakukan. Ada yang mau nambahin daftar saya di atas? Silahkan…silahkan….

air-1a.jpg
himbauan hemat air di lingkungan Chevron

Ada 19 komentar : “Airku Sayang”

  1. WARNING : GLOBAL WARMING !

    when the water is going down,,,

  2. hehe, mba jangan nglamar jadi wartawan ya???ntar ndak bikin wartawan dan pejabat kerepotan…yang satu kehilangan pekerjaan, yang satu kehilangan kewibawaan….ehm soal air, aku jadi ingat bob sadino dengan prinsip bisnisnya yang mengalir seperti air. Interprestasi awal, adalah pasrah. tapi kita terkadang lupa bahwa air memiliki kekuatan yang luar biasa.
    saat mengalir di tempat yang lebar, ia mengalir deras ke tempat tujuannya. saat ditempat yang sempit, ia pun mengalir dengan tanpa kendala. Saat alirannya terbendung, ia mengumpulkan kekuatan untuk bisa melewati bendungan itu, melalui berbagai sisi hingga akhirnya luberannya pun bisa keluar mencari jalannya. dan….saat air berada di tempat yang nyaris tanpa pintu dan udara, iapun masih mengeluarkan sisa-sisa kekuatannya melalui berbagai kehidupan yang ada di dalamnya, bau bo! hingga kita manusia yang berakal pun membantu membuangnya agar tidak semakin berbau dan akhirnya….mengalirlah dia…
    aduh, kepanjangan ya..up’s ternyata 5 menit lagi DL..bye

  3. Hahaha…mana bisa aku menyaingi mbak Tutik? Tulisanku masih acakadut gitu.
    Hebat betul filosofi airnya., dan beneeeer banget. Pasrah mengikuti jalannya tapi punya kekuatan yang seringkali tak terduga.
    Mbak Tutik ini jurnalis yang enerjik banget, dan adaaaaaa aja energinya untuk ngomongin banyak hal. Jangan nglamar jadi penyiar ya…pada kehilangan pekerjaan nanti..hehehe…
    Thanks banget ya mbak, salam buat mas Herlambang, mbak Sri, dan semua teman2 di Bernas.

  4. haha, rumput halaman tetangga selalu nampak lebih hijau mba, tak tahunya ketika ada di halaman tetangga yang dimaksud, wow!!…mana yang banyak lubangnya, rumputnya ada yang layu, atau bahkan yang mati mengering…kelihatannya aja enerjik, padahal….ehm kalau diperbandingkan neh sama enerjiknya mba ninda masih beberapa level di bawahnya lah…jujur deh mba, salutku untuk panjenengan…top abizt..kabar2-nya kita tunggu ya…
    salam buat mas benni deh, tutik tunggu wedhus gulingnya….

  5. air
    bila ketemu dengan air air yang lain maka dia bisa menjadi bencana
    air bila bercerai dengan air air yang lain dia akan juga jadi bencana
    maka tidak heran apabila bengawan solo banjir, di lain pihak di daerah ghana terjadi kekeringan….
    air bisa jadi simbil perumpaan
    jadilah air…. (kaya ninda..) hahahha
    mengalir,
    mengikuti bentuk wadahnya
    selalu mencari tempat yg lebih rendah
    membumi,
    dan bila beradu dengan batu maka tidak ada yang cedera…
    bila dia berkumpul,mengalir dan menyatu akhirnya jadilah dia samudra.. (ninda meneh…)
    jadilah samudra…
    tempat berkumpulnya segala amcam air, ada yang kototr, ada yang bersih tetepi ketika berkumpul di samudra dia akan menghidupi ikan dan bersifat suci sekaligus mensucikan
    maka
    jadilah air….

  6. Wow….dalem banget mas pengamatan dan perenungannya..
    Aku suka sekali dengan “bila beradu dengan batu, tidak ada yang cedera…”. Hmmm…
    Maturnuwun ya… Ayo kita kampanyekan “sayang air”…

  7. air ini paling fleksibel…

    dari air bisa menjadi es..
    dari es bisa juga jadi air lagi..
    dari air bisa menjadi uap..
    tapi air tetap tidak bisa bersatu dengan minyak..

    keluarnya Air Mata, menyimpan banyak makna
    keluarnya Mata Air, untuk banyak kehidupan

    nb: salam balik buat tutik..kambingnya pake pita warna merah ya hehehe…

  8. Saya agak sering juga ke Pekanbaru, perjalanan ‘abidin’ (atas biaya dinas). Biasanya saya nginap di hotel Mutiara, ngajar di Universitas Lancang Kuning di Rumbai, jadi pasti melewati jembatan Siak yang diceritakan Mbak Ninda. Memang saya juga sering melihat rumah di kanan kiri sungai itu terendam air. Positive thingking Mbak Ninda bahwa pemerintah Riau pasti sudah memikirkan masalah banjir dan jalan rusak ini membuat saya trenyuh. Mereka memang buanyaaak duit, tapi pejabatnya pada ’sibuk’ sendiri. Apalagi menjelang pemilihan Gubernur tahun 2008 (ini mah tidak cuma di Riau, tapi di semua daerah … eh, saya nggak menyinggung Yogya lho …).

    Kita memang beruntung sekali tinggal di Yogya. Nggak banjir, nggak macet, nggak ada lumpur lapindo, nggak ada rampok di taksi. Jalan-jalan di dalam kota hampir tidak ada yang berlubang. Cuma yang menyedihkan, masih adanya aksi vandalisme yang mencorat-coret dinding bangunan, serta pedagang lesehan Malioboro yang suka nuthuk wisatawan.

    Mbak Ninda, mohon hati-hati kalau beli air mineral galon, soalnya ada yang palsu. Bukan airnya yang palsu, tapi merknya dipalsukan, jadi cuma diisi air mentah tanpa sterilisasi. Paling aman membeli dalam botol ukuran sedang, karena hampir bisa dipastikan asli.

    Oh ya, di UMY, berdasarkan hasil penelitian air sudah bisa diolah jadi bahan bakar kendaraan bermotor, namanya “banyugeni”. Kalau semua air sudah diolah jadi BBM, jangan-jangan kita harus minum bensin ya … he he …

    Salam dan sukses selalu ….

  9. Hahaha…iya ya bisa2 dunia kebalik, kita minum bensin.
    Terimakasih untuk sarannya soal air galon yang dipalsukan. Terus terang saya juga agak ngeri membayangkannya. Paling aman memang merebus air sendiri dan dimasukkan ke galon…hehe…
    Mbak, saya juga sedih soal corat coret itu, kok adaaaaaa terus ya. Yuk kita pikirkan sama2 caranya merubah pikiran para ‘coreters’ ini bahwa berbuat seperti itu tuh gak gagah sama sekali. Siapa yang mau kasih ide?
    Saya juga sedih dan mulai deg-degan, di beberapa bagian di DIY tercinta ini mulai banjir mbak. Kemarin lewat ringroad utara antara jln Kaliurang-Gejayan pas hujan deras…byuh byuh byuh…sampai panjaaaaaaang macetnya gara2 banjir di jalur lambat. Di daerah Amplaz dan beberapa lokasi lain di kodya juga makin parah. Hmmmmm….semoga Pemda dan DPRD sudah memikirkan hal2 yang jauh ke depan. Keluar duit banyak kalau untuk kebutuhan jangka panjang dan menyangkut masyarakat luas kan namanya bukan pemborosan.
    Untuk para ilmuwan di UMY, selamat. Semoga jadi sumbangan besar bangsa ini maupun bagi umat manusia di seluruh di dunia.
    Makasih sekali, sukses terus juga untuk Mbak Tuti.

  10. Wah … gawat nih. Saya kebetulan belum pernah lewat daerah banjir, jadi nggak tahu kalau di Yogya mulai banjir juga.
    Memang seharusnya permukaan tanah tidak boleh ditutup semua dengan aspal dan semen, karena air hujan lalu tidak bisa meresap ke dalam tanah. Setiap rumah mestinya membuat sumur peresapan untuk menampung air hujan, tidak langsung dialirkan ke selokan. Lewat sumur peresapan itu, air dimasukkan ke dalam tanah, tidak dibuang ke laut. Sumur peresapan ini bisa dibuat dibawah lantai rumah, atau di halaman dan ditutup tanah lagi, jadi tidak problem dengan halaman yang terbatas. Tapi gimana mensosialisasikannya, ya?

  11. bicara soal air, memoriku pun teringat pada peristiwa yang kualami beberapa bulan lalu.
    Suatu pagi, habis benah-benah kubaca koran Bernas terbitan hari itu. HL di halaman metro dan kota, menarik perhatianku. Mayoritas sumur di Kota Jogja tercemar bakteri e-choli. Demikian singkat Kasubdin P2PM Dinkes Kota Sri Wulaningsih menyampaikan……..
    Hati-hati membeli air minum dalam galon isi ulang, pasalnya ditemukan adanya galon yang “air minumnya’ mengandung kotoran, berbau kaporit dan lain sebagainya..
    “Aduh, cape deh! Apa coba yang tidak tercemar. Air sumur sampai air minum isi ulang. Baru 2007, bagaimana 10-20 tahun mendatang?” pikirku. Ditanya solusi juga nggak nggenah. Payah!!!….jengah serasa membaca berita yang lebih banyak berkutat pada masalah, tanpa solusi yang aplikatif yang diberikan oleh pihak terkait..
    bosan ah! kulempar koran ke kursi di ruang tamu kosku.
    “Ah kok rasanya haus ya..aduh kok kering amat ya tenggorokanku..Minum air putih, kayaknya cocok!,” pikirku. Kakiku pun melangkah ke dapur mengambil gelas.
    “Ehm air di kosku masuk yang tercemar nggak ya?hehe bisa berabe dong kalau kena diare. Secara, gitu loh. reporter yang nulis sekaligus jadi korban. Manis deh! Mantap!” Pikirankupun bermonolog ria dalam canda.
    Sampai didapur, satu gelas bening kupilihl.…kubuka kran dispenser dari gallon aqua yang terletak tak jauh dari rak gelas….cuuuuurrrr!!!!! kubuka kran posisi optimal, meluapkan hasrat ingin minum yang seolah tak lagi tertahan…
    “ups! Penuh deh” buru-buru hendak kuminum airnya. “Eit, apaan neh!” meski bibir gelas telah menempel di bibirku, kuhentikan niatku untuk minum. Mataku tiba-tiba tertuju pada butiran hitam yang awalnya kupikir adalah tanah nampak berada di dasa gelas.
    “iih apaan ya, ini!. Perasaan gelas dari rak bersih, tapi kok ada butiran tanahnya…kontan air pun kubuang ke bak cuci piring
    ”aduh, siapa sih ya yang nyuci gelas kok sampai masih ada kotoran nempel. Coba kalau mataku ni tak liar menyisir kilauan air yang nyaris masuk ke lubang mulut. Asem ki!!” gerundelku.
    Gelas kucuci dan kuganti dengan gelas yang sudah kering lainnya di rak. aku tetap milih gelas bening. Air dalam gallon pun kembali kutuangkan. sembari menunggu penuh, sesaat kubaca merek aqua yang tertulis. “Aqua…wah, ini si Tirto Oetomo memang seorang entrepreneur luar biasa, thinking out of the box bo!secara, hanya air putih, tapi bisa jadi ladang bisnis!” pikirku lagi.
    gelas penuh, kran kumatikan. Mataku pun kian nanar mengamati beningnya air. “Loh, kok rada keruh. apa nih, benda berwarna putih yang terbang melayang di air. Ehm, mirip apa ya, kok kayak nasi yang lama terendam di air. hehehe. lebih kecil memang, tapi masak sih ada nasi nyemplung di galon. Yang pertama butir tanah, sekarang nasi, nanti jangan-jangan sayuran. Hehe.” mataku pun beralih mengamati galon air, tapi biar sudah kupicingkan dan lensa mataku dalam posisi optimal, tetap saja tak kutemukan benda ataupun kotoran yang melayang-layang.
    “mba, air aquanya kotor apa ya? teriakku dari dapur kepada salah seorang teman kosku. “tahu ya, masak sih, aku nggak mengamati. Dari beli seminggu lalu, aku juga minum dari situ. tapi nggak tak amat-amati. masak sih, gelasnya kali!,” teriak temanku yang sedang berada di tempat jemur pakaian, tak jauh dari dapur.
    spontan, airpun kubuang, dan aku tuang lagi air dari galon ke gelasku. tapi tetap saja, malah sekarang ada kotoran-kotoran lain. benda putih-putih yang sesaat mirip binatang laut mirip payung yang tak kuingat namanya itu kembali ada,…
    “mba, kemarin beli dimana ya?” teriaku lagi.
    “tuh, di warung pojok, biasanya kan di situ.” jawab temanku.
    jangan-jangan…..

  12. tut… tahun lalu aku bersama eko juga emo, pernah liputan di depot isi ulang banyu galonan, dan dia juga jual banyu galonan bermerekkk..
    dan ada juga deh mikro-mikro yang melayang di dalam air
    wis ngombe banyu kendi wae hehehe…

  13. saudara2, karena kita sayang air, nek nanggap mbak ninda, air minumnya gabung honor aja.. :) wakakakak…
    buat Tutik… emang Bernas masih terbit po ? Setahuku wis bubar sejak 2004 je…. wakakakak ….

  14. Buat Mb Ninda, Mba Tuti nonka, mba Tutik, Mas Benny ……tentang pemalsuan air galon maupun refil ulang yang tidak hygienis ……..hi hi hi …memang bener dan ada disekitar kita….ngeri kalau tahu akibatnya terhadap kesehatan jangka panjang. Untuk itu Heru kasih tips minuman yang sehat harus memenuhi 1. Syarat Fisik meliputi : air tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna dan suhu dibawah udara diluar air tersebut. 2. Syarat Kimiawi: tidak boleh mengandung nitrit, Fe <0,3 mg/l, fluor 1-1,5 mg/l. chlor < 250 mg/l , Arsen < 0,05 mg/l, Cu < 1mg/l, zat organik dari 10 m , tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna bila terbebas 3 unsur tersebut berarti sudah dapat dipastikan terbebas dari unsusr kimiawi ……kemudian air dimasak sampai mendidih lebih kurang 5 menit sudah dapat dipastikan terbebas dari bakteri E Choli. ……….he he he biar tambah waspada komplek perumahan yg saling berhimpitan dengan tiap keluarga membuang limbah RT dan kotoran dapat dipastikan kualitas air sumurnya pasti tidak sehat…..he he he ngeri

  15. Mhn maaf ada kekeliruan Cu 10 m…..dilihat airnya harus tidak berwarna…..dirasa airnya harus tidak berasa…dibau airnya harus tidak berbau, bila ketiga unsur tersebut terpenuhi berarti telah memenuhi syarat kimiawi atau dapat dipastikan tidak ada zat kimia yang membahayakan tubuh……. 2. Masak air tersebut sampai mendidih dan biarkan sampai 5 menit kalau ini dilakukan berarti telah memenuhi syarat microbiologis yaitu air terbebas dari bakteri E Choli dan kroni-kroninya. 3. Kalau kita terserang diare dan tetangga banyakl yang diare tidak ada salahnya ambil air sumur kita dengan memakai botol yang bersih dan segera kirim ke BTKL (balai Tehnik Kesehatan Lingkungan) di Ngasem Yogya untuk dianalisis kandungan kimiawi dan microbiologisnya. Kawan-kawanku kita dihadapkan masalah kesehatan serius, lebih-lebih saudara-saudara kita diperumahan yang berhimpitan dengan luas tanah tidak lebih dari 200 m dan semua membuat lubang resapan airlimbah RT yang banyak kandungan kimianya dan lubang resapan limbah kotoran manusia ……..memang tinggal dlingkungan perumahan boleh dikata homogen dalam latar belakang sosial ekonomi, rumah tertata rapi rapi tapi apakah kita tidak menyadari ada ancaman serius dari sumber air yang ada dibawah rumah kita yang kita manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari…..mari kita renungkan bersama dan jangan lupa keti berPHBS….Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

  16. Melakukan perjalanan, mengamati sekitar, memaknai, dan menyusun action untuk mensikapi apa yang kita lihat dan merngkainya dalam kalimat dan dipublikasikan untuk mempengaruhi pikiran dan pandangan orang lain.. artikel yang sangat menarik mbak Ninda… air..zat yang vital bagi kehidupan tapi masih disia-siakan. hem.. air.. air dan air.. tugas saya di kawasan Timur Indonesia juga berkaitan dengan air yang kadang bikin trenyuh adalah penghargaan manusia indonesia terhadap air sangat rendah.

    Salam kenal dari orang jogja di timur indonesia

  17. Mbak Toeti…salam kenal juga. Waaaah terimakasih banyak ya. Semoga kita bisa berbagi cerita disini, saling memotivasi, saling mengingatkan.
    Saya tunggu ceria-ceritanya mbak, pasti menyentuh hati banyak orang.

  18. Aku gun di jogja Kalo menurut pengalamanku air galon yg asli dari suatu pabrikan (yg bermutu) dan menurut standard depkes, di belakang botol galon itu harus ada nok tercetak kecil hitam tulisan tanggal kedaluarsa. Aku tidak tahu itu apakah jaminan galon itu asli ato tidak tp mungkin lbh baik ato aman kalo itu ada ..trims

  19. engga banget deh beli air refill,.. beli 4000 segalon,..lalu ke RS abis 80,000 karena diare…

Komentar