Birmingham Arts Festival- Catatan Event Seni di Inggris (1)

Dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR), Senin 21 Juli 2003

Kalau menyaksikan kegiatan-kegiatan Fstival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang baru saja dilangsungkan, saya jadi ingat pengalaman menyaksikan Birmingham Arts Festival (BAF) yang juga diselenggarakan setahun sekali. Bedanya, kalau FKY dilaksanakan sebulan penuh, sedangkan BAF hanya berlangsung selama 2-3 hari, biasanya pada pertengahan bulan September.

Dalam BAF, seperti juga dalam FKY, ditampilkan berbagai atraksi kesenian dan bazaar beraneka ragam. Dibangun beberapa tenda dan panggung-hiburan di berbagai tempat di city centre dan sekitarnya.

Pelaksanaan BAF yang hanya 2-3 hari itu ternyata juga dianggap yang paling pas. Sebagian panitia mengatakan bahwa kalau pelaksanaannya diperpanjang, gemanya akan berkurang dan pengunjung yang datang tidak akan sebanyak sekarang. Jadi panitia menggeber promosi dan sekitar 350 events gratis selama dua-tiga hari tersebut dengan harapan pengunjung akan nampak melimpah ruah, dan hal ini mendatangkan sponsor. Saya jadi membandingkannya dengan FKY, seandainya waktu pelaksanannya dipersingkat, apakah sponsor juga akan lebih deras mengalir ? Tapi kalau FKY cuma 2 hari, rasanya kurang greget ya.

Saya sempat menyaksikan beberapa events di beberapa panggung pada BAF 2002 September lalu. Kemasan pertunjukannya tidaklah terlalu istimewa sebetulnya, mungkin FKY justru lebih semarak.

Ada panggung yang khusus menampilkan tari-tarian dari berbagai etnis yang ada di Birmingham. Birmingham memang dikenal sebagai kota yang multi-etnik karena banyaknya penduduk atau warga yang berasal dari India, Pakistan, negara-negara Arab, Jamaica, Cina dll. Komunitas-komunitas ini menampilkan kesenian mereka masing-masing.

Di tempat lain, disediakan sebuah panggung luas untuk pertunjukan musik, ada band rock, ada orkes klasik, ada musik etnik seperti musik Punjaab dari India dsb. Pertunjukan berlangsung dari pagi hingga malam hari. Kebetulan pada bulan September matahari baru tenggelam sekitar jam 9 malam, jadi segala pertunjukan outdoor tidak memerlukan lighting system yang complicated.

Yang menarik buat saya adalah penonton yang datang, dari anak-anak sampai mereka yang sudah berusia lanjut. Kebetulan di depan saya ada sepasang orang tua (sekitar 70 tahunan) yang duduk dengan kursi lipat dan turut bergoyang-goyang kalau musiknya mereka suka. Saya pikir, pasti ada cucu mereka yang tampil di panggung. Tapi waktu saya tanyakan, mereka bilang tidak ada anggota keluarga yang berpentas. Mereka memang selalu hadir di BAF karena cinta musik dan enjoy dengan suasana di acara itu, yang tidak diskriminatif terhadap orang berusia lanjut.

Waaah…saya salut. Sepertinya kalau di sini, meskipun kepengin, orang-orang tua malas keluar nonton pertunjukan musik atau kesenian lainnya karena takut suasananya nggak nyaman, takut kesenggol orang-orang muda yang tidak perduli tata krama, atau takut dibilang nggak tahu diri, sudah tua kok joged-joged. Padahal ya nggak ada larangannya to ?

Yang juga menarik adalah promotion tools yang intensif dibagikan kepada setiap pengunjung. Para volunteers membagi-bagikan brosur atau flyers di berbagai pintu masuk atau sudut jalan. Salah satu informasi di dalamnya adalah susunan acara dan denah tempat pertunjukan. Hal ini penting karena tempat pertunjukan tersebar di berbagai penjuru city centre dan tidak semua pengunjung mengerti jadual pertunjukan dan tempatnya.

Para volunteers yang membantu kerja panitia (pemerintah-kota dan para sponsor) memang para tenaga sukarela yang direkrut dari berbagai lapisan masyarakat. Saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa volunteers, sebagian adalah mahasiswa yang sengaja ikut kegiatan ini untuk mencari pengalaman, jadi mereka memang tidak mengharapkan bayaran. Dari kegiatan tersebut mereka bisa melihat bagaimana cara mengelola sebuah seni pertunjukan, mengelola promosinya, mengatasi penonton yang beragam dan belajar berorganisasi. Mereka mengatakan bahwa pengalaman ini sangat berguna untuk mencari pekerjaan setelah mereka lulus nanti.

Saya lihat mereka bekerja sungguh-sungguh dan berwajah gembira walau tidak dibayar. Mereka bilang bahwa dengan tersenyum, selain bisa membuat orang lain senang, juga bisa membuat diri sendiri bergairah untuk bekerja. Saya jadi sedih teringat banyak orang di sekitar kita, yang meskipun mendapat bayaran, tidak mau bekerja sungguh-sungguh. Tidak hanya di kepanitiaan yang kecil skalanya, tetapi juga di kalangan pegawai pemerintah, maupun anggota wakil rakyat. Bahkan senyum pun tidak nampak di wajah mereka ketika melayani masyarakat. Mungkin harus ada kampanye SENYUM di segala lapisan. Setuju?

BERSAMBUNG……..

Ada satu Komentar : “Birmingham Arts Festival- Catatan Event Seni di Inggris (1)”

  1. mbak Nin, FKY kalo 2 hari kurang greget, tapi kalo 1 bulan malah gregeten hehhee..

    Ngomong masalah FKY tentu sudah banyak wacana dan diskusi dr seniman utk FKY kita tercinta yg sudah berumur 20 tahun di 2008 ini..
    Tapi bagaimana dgn masyarakat Yogya sendiri? Apakah memang menanti perhelatan FKY, membutuhkan FKY ?
    Berbagai acara, beragam pertunjukan dihadirkan oleh panitia yg berganti-ganti kepanitiaannya…namun bagaimana hasilnya?

    Mungkin cerita mbak Nin di Birmingham, bisa mjd spirit utk kita menghargai FKY yg bukan hanya menjadi ajang unjuk karya seniman dan hanya untuk komunitas tertentu saja, , tapi bahwa masyarakat luas benar-benar terlibat ..
    Bagaimanapun seni hidup dan berkembang di sela-sela dinamika warga Yogya, dan masyarakat pun bergerak dalam nafas seni budaya..

    .

Komentar