Comic Relief - Catatan Event Seni di Inggris (4)
Dimuat di Kedaulatan Rakya (KR), 24 Juli 2003
…LANJUTAN…
Ada satu program menarik yang diprakarsai oleh para comedian atau pelawak di Inggris, yaitu “Comic Relief”. Program ini diadakan setahun sekali ditujukan untuk menggalang dana kemanusiaan, membantu mengentaskan kemiskinan dan mengakhiri ketidakadilan di berbagai negara. Sebetulnya tidak hanya di Inggris, karena ada juga program seperti ini di Australia, dan saya lihat para comedian terkenal seperti Whoopi Goldberg, Robin Williams, dan Billy Christal juga memprakarsai program semacam ini sejak 1986 di Amerika Serikat.
Di negara-negara tersebut dikenal perayaan Red Nose Day, yang identik dengan hari amal. Biasanya banyak dijual ‘hidung merah’ seperti hidung para badut, yang hasil penjualannya digunakan untuk kegiatan amal.
Acara “Comic Relief” di Inggris juga tidak lepas dari perayaan ini. Kira-kira sebulan penuh digelar berbagai event untuk mengumpulkan dana bagi program kemanusiaan. Nggak hanya ‘hidung merah’ yang dijual, melainkan juga berbagai produk seperti makanan dan minuman, yang sekian persen hasil penjualannya diserahkan kepada panitia “Comic Relief”.
Di puncak acara, digelar sebuah acara variety show yang disiarkan oleh BBC secara nasional. Acara berdurasi sekitar 4 jam ini dipandu oleh para pelawak kondang seperti Graham Norton, Lenny Henry, dan Billy Connoly. Ada juga parodi semacam Project P yang main ‘plesetan’, termasuk memlesetkan film Harry Potter. Uniknya, sebelum parodi itu ditampilkan, JK Rowling si pengarang Harry Potter diwawancarai dalam suasana yang ‘sok’ serius. Bahkan di akhir wawancara, dengan ekspresi yang serius juga, ia berpesan kepada penonton untuk tidak bersedia nonton parodi tersebut. He..he..dasar kerjaan pelawak….
Yang tak kalah menarik juga adalah acara “Fame Academy” khusus untuk para comedian. Dalam edisi kemarin saya ceritakan bahwa “Fame Academy” adalah kompetisi sekaligus ‘karantina’ bagi finalis kontes nyanyi, tempat mereka dilatih secara khusus dalam olah vokal dan olah gerak hingga proses pemilihan juara berakhir. Nah, khusus untuk memeriahkan “Comic Relief”, disiarkanlah “Fame Academy” yang kontestannya para pelawak, pemain serial komedi dan selebritis lainnya. Kalau biasanya babak final ini berlangsung beberapa minggu, maka edisi khusus ini hanya berlangsung satu minggu, dan para kontestan harus unjuk kebolehan setiap malam. Puncak pemilihannya diadakan bersamaan dengan puncak acara “Comic Relief” tersebut.
Peserta “Fame Academy” khusus ini antara lain Doon Mac Kichan, yang bermain dalam serial komedi “Smack The Pony”, juga Kwame, aktor kulit hitam yang suaranya memang bagus. Tetapi seorang peserta yang sangat menarik perhatian adalah Ruby Wax, pelawak perempuan ternama di Inggris yang aksinya bisa kita saksikan juga di salah satu televisi swasta di Indonesia sebagai presenter sebuah acara tentang berbagai iklan lucu.
Ruby Wax ini sebetulnya tidak memiliki suara yang bagus-bagus amat, malah cenderung melengking-lengking. Namun penampilan perempuan setengah baya berambut pendek ini memang sangat menghibur karena gayanya yang kocak. Dia bisa menyanyi sambil berloncatan kesana kemari, bahkan tiba-tiba bisa turun panggung dan mencium salah satu penonton. Kira-kira ya seperti gaya Ulfa Dwiyanti, atau Dorce lah.
Gara-gara penampilannya seperti itu, ia selalu ‘dipertahankan’ oleh penonton hingga babak terakhir. Setiap kali masuk ke daftar yang harus dipilih oleh penonton untuk dipertahankan atau dikeluarkan dari kompetisi, ia selalu mendapat suara yang lebih banyak sehingga bisa terus melanjutkan latihan di “Fame Academy”, dan tampil keesokan hartinya. Akhirnya Ruby berhasil mendapatka juara ke-2 dalam kompetisi ini, dan dianggap sebagai pendongkrak rating saat itu.
Selain ketawa-ketiwi, kita juga disuguhi liputan kondisi menyedihkan yang dialami anak-anak dan masyarakat di Afrika, kekerasan terhadap perempuan di berbagai negara, termasuk di Inggris sendiri, kejahatan seksual yang dialami oleh anak-anak, juga kekerasan terhadap orang tua. Saya sangat terkesan dengan liputan-liputan tersebut, karena dibuat dengan sangat menyentuh. Ekspresi seorang kakek yang disia-siakan oleh anak-cucunya, dicaci sebagai manusia yang sudah tidak berguna, dan tidak mendapat fasilitas yang membuatnya bisa menikmati sisa hidupnya, membuat saya menangis.
Ditayangkan juga berbagai program yang sudah dilaksanakan selama ini, misalnya pendirian klinik di berbagai pelosok Afrika, pembangunan rumah sehat, konsultasi bagi perempuan, anak-anak, maupun lansia korban kekerasan dsb.
Selama acara berlangsung, dibukalah rekening khusus bagi para penonton yang ingin menyumbang uang untuk program ini. Dan hasilnya diumumkan terus menerus sambil ‘ngompori’ penonton lain supaya bersedia juga menyumbangkan uang mereka.
Saya terharu, ternyata para pelawak dan selebritis bisa dengan kompak menggerakkan hati begitu banyak orang untuk beramal. Pemerintah dan berbagai perusahaan jadi ikut mendukung dengan gegap gempita. Saya juga salut, acara ini bisa dilaksanakan rutin tiap tahun, sehingga ada kesinambungan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, dunia hiburan, terutama seni humor, bisa terangkat karena ada ‘demam dagelan’ tiap tahun.
Hmmmm, ada nggak ya yang mau memprakarsai acara semacam itu di sini?
—TAMAT—
Kategori: Jalan-jalan
ada foto-nya mbak ? mbok majalah saya dibagi pengalamannya di Inggris. Kita punya rubrik ‘Manca Negara je..” . Ditunggu lho….
Wah makasih banget mas tawarannya, pasti saya akan nulis untuk rubrik “Manca Negara”.
Foto-2 untuk artikel2 saya diatas akan saya upload segera. Tunggu ya…(sok bikin penasaran..hehe..)