Fame Academy - Catatan Event Seni di Inggris (3)

Dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR), 23 Juli 2003

…LANJUTAN…

Berbagai kontes atau kejuaraan menyanyi diselenggarakan di Inggris untuk menjaring penyanyi-penyanyi baru yang kemudian diorbitkan secara serius dalam industri musik. Contohnya adalah acara “Pop Idol” yang antara lain mengantar Will Young, Gareth Gates, dan Darius menjadi idola pecinta musik, juga “Fame Academy” yang ‘meluluskan’ David Sneddon menjadi bintang pop baru.

Acara semacam “Pop Idol” dan “Fame Academy”biasanya disiarkan oleh salah satu stasiun televisi, sejak tahap seleksi hingga babak final. Media cetak pun tak henti-hentinya meliput dan mewawancarai para kontestan. Maka bisa dimengerti kalau para pemenangnya menjadi sangat terkenal, bahkan sebelum menang dan meneken kontrak pembuatan album.

Yang pantas dicatat dari kontes macam ini antara lain adalah diperlihatkannya proses yang harus dilalui oleh para kontestan. Cuplikan berbagai kejadian dalam seleksi atau penjurian hampir tiap hari disiarkan di televisi. Secara ‘blak-blakan’ para juri memberikan komentar dan alasan penilaian. Saya justru yang sering ‘terkaget-kaget’ mendengar komentar para juri, soalnya mereka sangat terus terang sih. Misalnya seorang kontestan dikatakan tidak cocok membawakan lagu tersebut, atau tidak punya style seorang calon pop star dsb. Kalau saya yang jadi kontestan, mungkin sudah ‘ambruk’ di panggung mendengar penilaian para juri yang kadang terasa ‘menusuk perasaan’ itu. Tapi rupanya ini adalah salah satu bagian dari latihan mental yang harus dihadapi oleh para peserta.

Saya cukup kagum dengan proses seleksi dalam acara “Fame Academy” yang baru pertama kali diselenggarakan tahun lalu. Acara milik BBC (British Broadcasting Corporation) yang sangat diminati ini merupakan program seleksi yang dikombinasikan dengan pelatihan khusus bagi para finalis. Sebanyak 12 finalis dikarantina selama lebih dari dua bulan di sebuah mansion alias rumah mewah. Bukan untuk senang-senang, melainkan berlatih vokal dan olah gerak secara intensif, dari pagi hingga malam hari. Bahkan mereka dilarang bertemu dengan keluarga, hanya disediakan waktu-waktu tertentu untuk menelpon.

Sekolah khusus ini dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang mengatur program pelatihan, dibantu oleh guru-guru yang kredibel di bidangnya. Misalnya Carrie Grant yang dikenal sebagai pelatih vokal para artis, antara lain S-Club 7, Victoria Beckham dan Charlotte Church. Ia juga dikenal sebagai penyanyi pendamping atau latar pada konser Diana Ross, Roberta Flack, Rod Stewart dll.

Guru yang lain adalah Kevin Adams yang dikenal sebagai salah satu anggota penari latar Spice Girl, Tina Turner, Elton John dsb. Ia lah yang bertanggung jawab melatih fisik para finalis tersebut dan mengatur koreografi sehingga mereka dapat tampil dengan gaya yang berbeda di setiap lagu yang harus mereka bawakan. Kepala sekolah dan para guru ini, selain melatih, juga akan menilai apakah peserta bisa melanjutkan atau harus ‘dikeluarkan’ dari ‘akademi’.

Beberapa kali dalam seminggu disiarkan cuplikan latihan-latihan berat yang dilakukan oleh peserta, dan juga rapat para guru dengan kepala sekolah membahas kemajuan para murid. Jadi penonton televisi bisa tahu bahwa si A nggak bisa menyanyi dalam nada tinggi, misalnya, atau si B terlalu kaku gerakannya sampai harus diberi perhatian khusus.

Aturannya, setiap Jumat malam mereka harus tampil, baik solo maupun dalam grup, pada sebuah show yang disiarkan secara live oleh BBC. Tiga orang yang dinilai punya nilai terendah minggu itu, harus tampil ekstra untuk ‘mempertahankan diri’. Caranya, mereka tampil satu persatu menyanyikan sebuah lagu, kemudian penonton boleh mengirimkan sms ke BBC untuk mempertahankan mereka. Yang mendapat dukungan paling sedikit ya terpaksa harus mengepak koper dan pulang alias nggak bisa lagi ikut latihan di sekolah itu. Begitu seterusnya, setiap Jumat ada ‘korban’ baru, sampai didapat juaranya, yaitu David Sneddon.

Kombinasi antara penilaian para guru dan interaksi penonton ini saya rasa cukup unik. Para guru memang punya kewenangan dan kemampuan untuk menilai berdasarkan pengamatan mereka sehari-hari, namun seringkali publik punya penilaian yang berbeda. Seperti halnya dengan David Sneddon, saya ingat beberapa kali dia harus tampil untuk ‘mempertahankan diri’ karena nilainya di sekolah itu dianggap kurang baik. Tapi dia selalu lolos alias dipilih oleh penonton untuk tidak ‘dikeluarkan’. Bahkan di babak-babak terakhir, ada guru yang mengatakan bahwa gaya dan kualitas suara David masih sangat jauh dibandingkan dengan penyanyi yang sudah tenar. Guru tersebut lebih menjagokan finalis lainnya. Namun selera pasar ternyata memenangkan David, hingga dia berhak menyandang predikat juara dan mengantongi kontrak rekaman sebesar 1 juta poudsterling plus hadiah lainnya.

Saya jadi ingat perjuangan para bintang seperti Inul dan Kris Dayanti. Mereka bertahun-tahun berlatih dan jatuh bangun sebelum menjadi setenar dan sesukses sekarang. Menggapai kesuksesan melalui proses semacam ini pantas untuk dikampanyekan, disaat banyak diantara kita yang maunya sukses dengan instan, dengan jalan pintas dan ogah bersusah payah. Para pemenang kontes semacam Fame Academy perlu dibekali kesiapan mental untuk mau selalu belajar meski kontes telah usai, karena ‘panggung’ dan ’sekolah’ sesungguhnya baru saja dimulai.

…BERSAMBUNG…

Komentar