“Anak-anakku, keponakan-keponakanku, anak tetanggaku, sering panas, tidak batuk. Waktu periksa ke dokter anak, tanpa periksa lab, tidak ronsen paru, kok semua diobati 6 bulan? Apa dengan gejala-gejala yg begitu sudah pasti flek?”

j0408925.jpg

Itulah salah satu pertanyaan melalui sms yang dikirimkan ke acara Dokter Kita Jogja TV malam ini (02/11/08). Temanya adalah TBC Anak, bersama dua dokter Spesialis Anak dari RS Dr. Sardjito Yogyakarta, yaitu dr Amalia Setyati, SpA dan dr Rina Triasih, SpA. Puluhan sms dan telpon yang masuk menunjukkan betapa informasi tentang TBC Anak ini sangat dibutuhkan.

Uniknya, kita semua sering menyebut TBC ini dengan istilah ”flek”. Entah ini bentuk ”penghalusan” karena sejak dulu menderita TBC dianggap memalukan, atau hanyalah istilah yang ringkas dan mudah diucapkan.Tapi yang jelas istilah ”flek” itu berasal dari adanya bercak/flek putih yang muncul dalam pemeriksaan rontgen paru penderita TBC.

 Menarik banget berbincang-bincang dengan kedua dokter cantik ini. Sayang waktunya sangat terbatas. Semoga lain waktu bisa diteruskan lagi, karena saya rasa penjelasan ini sangat bermanfaat.

 Beberapa hal menarik dan penting yang bisa saya catat adalah :

  • TBC adalah penyakit yang tidak menurun, tapi ditularkan dengan sangat mudah melalui udara. Namun perlu dicatat bahwa anak yang menderita TBC tidak menularkannya, kecuali penderita TBC tipe tertentu saja, yang jumlahnya tidak banyak. Maka sudah pasti bahwa penularan itu dari orang dewasa penderita TBC yang punya intensitas pertemuan dengan anak yang kemudian tertular tersebut.

  • Gejala-gejalanya pada anak-anak nggak spesifik, justru batuk bukanlah gejala utama. Biasanya anak tersebut mengalami demam (meski nggak tinggi, cuma ”semlenget” atau anget-anget aja) yang muncul dan hilang begitu saja. Gejala lainnya adalah nafsu makan berkurang, berat badan tetap atau tidak naik selama 3 bulan berturut-turut, atau bahkan turun terus, serta adanya kelenjar getah bening di leher yang membesar.

  • Meski ada gejala-gejala tersebut, masih diperlukan lagi pemeriksaan lainnya untuk dapat menegakkan diagnosis TBC. Pemeriksaan lain yang diperlukan antara lain adalah foto rontgen paru, dan test Mantoux (dibaca ” mantu”) yaitu test melalui kulit. (Pada TBC Dewasa, pemeriksaan dahak juga diperlukan).

  • Naaah, saya balik lagi ke pertanyaan sms di atas, anak-anak yang punya gejala seperti di atas, tanpa pemeriksaan lebih lanjut kok langsung ”divonis” kena TBC dan diberi pengobatan yang berlangsung 6 bulan? Dokter Amalia dan dokter Rina dengan simpatik mengajak kita semua untuk nggak sungkan bertanya kepada dokter kalau ada kejadian semacam ini, karena pasien serta keluarga berhak mendapat penjelasan atas treatment pengobatan yang dijalani. Tentu saja nggak tepat kalau tanpa pemeriksaan lanjutan kok dokter langsung menyimpulkan seseorang terkena TBC dan memberikan pengobatan seperti di atas.

  • Perlu banget untuk membuat supaya ruang tidur anak-anak dan seluruh sudut rumah mendapatkan aliran udara dan cahaya matahari yang cukup. Soalnya kuman TBC mati kalau terkena sinar ultra violet. Kalau ruangan lembab, maka kuman TBC dapat hidup dan bertahan berminggu-minggu di sana. Hiiiiii….

  • Yang tak kalah penting adalah mencari sumber penularan. Seperti dinyatakan tadi, penularan bukan antar anak-anak (jadi nggak perlu menghindari anak-anak yang sudah positif kena TBC). Orang dewasa di sekitar anak-anak itulah yang harus diperiksa, entah itu pengasuh, sopir, guru, dan tentu kita orang tua, tante, om, kakak-kakak dll. Dengan menemukan sumbernya, dan mengobatinya, maka diharapkan nggak akan ada lagi penularan ke sekitarnya.

  • Sangat perlu mengubah stigma masyarakat tentang penderita TBC. TBC bukan penyakit yang memalukan, dan BISA DIOBATI. Kalau penderita merasa malu mengakui penyakitnya, sehingga nggak ada yang tahu dan akhirnya juga nggak berobat, maka bisa dibayangkan penularan yang akan terjadi. Per tahun, penderita yang tidak diobati akan dapat menularkan TBC kepada 15-20 orang! Banyak kan…

  • Gimana mencegahnya? Imunisasi jangan lupa, dan makanan bergizi harus dikonsumsi anak-anak supaya daya tahan tubuh mereka cukup kuat. Kebayang kan betapa susah mencegah kuman itu beredar di sekitar kita, yang tinggal di negeri dengan penduduk yang padat ini? Maka kita harus lindungi anak-anak dengan daya tahan yang prima. Berikan juga lingkungan yang sehat untuk mereka, misalnya jangan sampai terpapar polusi dan rokok. Kalau bapak atau ibunya perokok, maka saluran nafas si anak yang menjadi perokok pasif ini akan ringkih sehingga kuman apapun -termasuk TBC- mudah masuk. Setuju ya Bapak-bapak Ibu ibuuuuuuuuuuu….? :)