Ada 2 komentar : “Foto2 Mahakarya Borobudur 5 Juli 2008”

  1. Sorry mbak ya, menurutku Borobudur memang indah, termasuk papan atas karya manusia di dunia…. (hik..wong jowo senenge ngalem tapi akhire nganggo kata-kata….tapi), nah tapinya ini yang menurut saya harus diolah oleh teman-teman seniman jowo…… bahwa sesuatu yang natural itu ketika ditampilkan dalam suatu khasanah ’sajian’ harus ada sebuah ‘polesan’ ……. lihat produk kesenian wayang di Thailand, latarnya natural, tapi wajah penari dengan topeng yang rumit, njlimet, detail, menghasilkan maha karya yahoood. Semua serba menggetarkan, padahal janjane mung topeng ‘munyuk = anoman’ (sorry).
    Kita jangan hanya terperangah dengan Borobudurnya, poleslah menjadi back ground yang yahood, kenapa takut membuat artifisial lighting yang menjadikan borobudur bukan sekedar tumpukan batu warna item, bisa nggak ketika penari sbg latar depan tampil dng warna kuning, lalu batu borobudur berubah warna menjadi coklat (misalnya), ketika ada gonjang ganjing borobudur berubah menjadi merah … tapi merah yang tenanan (jer basuki mowo bea). Paduan dalam finishing membuat warna ini rasanya kita masih kurang, kadang sekedar puas pada gebyar depan/awal, gebyar suara gamelan tanpa memperhatikan ‘aura latar belakangnya’ …… hihik, hebat sekali saya ya …. Gini lho maksudku mbak, daun tanaman di jawa kan berkhasiat, tapi nek pembeli langsung disuruh makan yo ora payu, kan lebih nges dan jos kalau ditata dengan apik, nengsemake sajiane, diwadahi pakai pernik-pernik yang sesuai dengan warna dan khasiat daun….. gitu loh (hihik..kemaki men aku)
    Oke selamat deh, insya Allah Agustus nanti saya bisa lihat itu Mahakarya Borobudur, ingetin ya mbak Ninda … selamat.

  2. Wah.. kalau yang bicara seorang arsitek jempolan tuh ya pasti hebat komentarnya. Terimakasih sekali mas Parfi,saya akan sampaikan masukan ini ke panitia.

    Menurut kabar, panitia terus akan menyempurnakan Mahakarya Borobudur dari segala aspek. Seperti yang ditulis harian KR hari ini, Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko mengatakan bahwa akan selalu diupayakan peningkatan kualitas pementasan. Antara lain, sejumlah adegan yang dibuat berbeda dari pentas-pentas sebelumnya. Misalnya, jika semula seluruh penari keluar dari belakang panggung, maka sekarang sejumlah penari muncul dari samping bahkan menghampiri penonton.
    Semoga dengan berbagai masukan seperti dari mas Parfi ini, pementasan ini akan makin indah dan berkesan.

    Saya setuju banget bahwa “kemasan” itu penting, tapi kita justru sering mengabaikannya. Aneka souvenir dari berbagai objek wisata di Indonesia seringkali tampak lusuh dan pembuatannya asal-asalan, bikin orang males beli dan nggak bangga nenteng-nenteng kesana kemari.

    Sekali lagi makasih mas, sampai ketemu di Borobudur ya, baik yang abu-abu, maupun yang warna-warni :)

Komentar