Grogi di Depan Publik


Dimuat di KR 22 Agustus 2006

Mba Ninda, nama saya Rifai, saya mahasiswa, umur 21 tahun . Saya punya masalah nih mba. Saya selalu grogi atau nervous kalau sedang presentasi makalah didepan teman-teman. Begitu pula kalau sedang menjawab pertanyaan dari mereka sehingga apa yang sudah dalam pikiran saya jadi hilang entah kemana. Gimana caranya agar tidak grogi tampil didepan teman-teman atau publik? mohon saran dari Mba Ninda yg baek hati. Terima kasih ya mba.
Rifai
cahtapen@yahoo.com


Hai Rifai, banyak kok orang yang punya masalah seperti kamu. Bahkan orang-orang yang kelihatannya pe-de bicara di depan publik terkadang terserang ‘penyakit’ itu juga. Hanya saja mereka pandai menutupi dan mengatasinya, atau memang terlatih untuk menguasai diri karena “jam terbang” yang sudah tinggi.

Ada beberapa hal yang bisa bikin kita grogi, tapi yang paling sering menjadi penyebab adalah :
1. Nggak siap dengan materi yang harus kita sampaikan.
2. Menganggap audience lebih pandai atau jabatannya lebih tinggi.
3. Ada orang-orang yang istimewa atau penting, yang membuat kita merasa harus “perfect” di depan mereka.

Nah, mungkin kamu ngalamin juga hal-hal seperti itu. Misalnya kamu nggak terlalu siap dengan makalah kamu, terus kamu merasa temen-temen kamu lebih pinter atau kritis. Belum lagi perasaan malu kalau dosen atau pacar atau cewek yang lagi kamu taksir lihat kamu “dibantai” temen-temen.

Untuk menyiasati demam-panggung kayak gitu, yang pertama harus dilakukan memang menyiapkan materi sebaik mungkin. Setelah siap, coba buat pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari materi itu. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kamu coba jawab dengan tertulis dulu, usahakan jawaban yang singkat, teratur, dan informatif. Kalau terasa kurang pas bisa dikoreksi lagi. Nah, setelah itu baru kamu latihan untuk menjawab dengan lisan, berdasarkan jawaban tertulis tadi. Tapi jangan menghafal lho, usahakan kamu mengerti betul isi jawaban kamu sehingga nggak terkesan membaca. Sangat disarankan latihan di depan cermin, jadi bisa sekaligus melihat gerak tubuh, apakah berlebihan, atau mungkin terlalu kaku dsb. Lakukan latihan ini beberapa kali, jangan puas dulu kalau baru sekali latihan dan merasa udah lancar.

Setelah itu buatlah catatan-catatan kecil berisi point-point penting tentang apa yang akan kamu sampaikan plus jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul. Gunanya apa? Saat kita grogi, seperti yang kamu bilang, apa yang udah ada di kepala bisa ilang semua. Saat kita mencari-cari kata-kata yang tepat itu, entah dengan diam atau ngomong muter-muter nggak jelas, maka grogi kita bertambah dan bertambah. Apalagi lihat audience mengernyitkan dahi tanda nggak ngerti, atau lihat mereka bisik-bisik satu sama lain. Waaah keringat dingin bisa mengucur deras, kata-kata yang tepat semakin nggak ketemu, berpikir negatif bahwa mereka pasti ngetawain jawaban kita. Nah, untuk menghindari kekacauan seperti itulah kita perlu catatan kecil, yang berguna waktu kita ‘blank’, sehingga menemukan kembali kalimat-kalimat yang harus kita ucapkan. Jadi, kertas catatan itu jangan gede-gede ya, cukup seperempat halaman kuarto aja.

Ada baiknya kamu coba presentasi di depan teman-teman dekat dulu. Dengan menguasai forum yang kecil, kamu akan lebih siap untuk tampil di depan forum yang lebih besar. Dari forum kecil itu juga kamu sudah dapat gambaran pertanyaan yang bakal muncul dari audience.

Jangan lupa persiapkan juga penampilan dengan baik. Bayangkan kalau materi udah oke, ternyata kancing kemeja nyaris lepas atau ada bagian yang robek. Kan bisa bikin kamu nggak pede lagi. Yang sangat penting untuk diingat, jangan anggap teman itu “musuh” yang akan “membantai”. Kita harus menganggap mereka teman-teman yang membutuhkan informasi dari seorang sumber yang layak dipercaya. Bicaralah dengan penuh rasa percaya diri dan antusias tentang subjek yang kamu bicarakan. Audience akan tertular antusiasme itu dan merasakan bahwa kamu sangat siap dengan materi itu.

Oya, jangan lupa tambahin senyum. Orang lebih senang melihat pembicara berwajah ceria dibanding yang wajahnya merengut. Lagian, dengan tersenyum, diri kita sendiri juga merasa nyaman dan tenang.

Ok Rifai, selamat mencoba lagi ya. Dengan lebih sering praktek, kamu akan makin pede. Mbak termasuk orang yang sering “nekad” praktek bicara biar pede, karena dulu mbak sangat pemalu. Lama kelamaan kamu akan merasakan nikmatnya bicara di depan banyak orang, menyampaikan gagasan, membuat orang lain mengerti topik-topik yang baru, dan membuat mereka terkesan dengan jawaban kamu. Oya, tambah wawasan kamu dengan banyak baca dan banyak bergaul ya. Itu akan membuat kamu nggak pernah kehabisan kata-kata dalam situasi apapun. Sukses ya.

Ada 2 komentar : “Grogi di Depan Publik”

  1. Mbak Ninda, nama saya asriansyah (34). Saya biasa berbicara di depan umum. Baik sebagai moderator atau nara sumber. Akan tetapi, mengapa saya belum bisa menghilangkan perasaan grogi meski saya sudah menyiapkan diri dengan baik sebelum acara. Saya biasa iri dengan teman saya yang terlihat santai dan begitu menguasai materinya.
    Tolong sarannya Mbak. Makasih.

  2. Halo mas Asriansyah.. semoga kabar baik ya.
    Mas tuh sudah hebat banget lho sering jadi moderator atau nara sumber. Saya yakin, banyak orang juga iri sama mas :) Mungkin teman Anda itu (yang kelihatan santai dan menguasai acara itu) grogi juga lho, tapi nggak kelihatan karena sikapnya nggak nunjukin kegrogiannya.

    Nah, sekarang kita ubah pandangan kita tentang grogi yuk. Grogi jangan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, tapi jadi energi ekstra untuk bersikap antusias saat harus tampil di depan umum.

    Jadi kita sikapi grogi itu dengan senyum sesering mungkin, dan penuh antusias saat menyapa audiens, menyapa moderator, dan menyapa panitia sebelum saatnya Anda presentasi. Begitu melihat antusiasme Anda, mereka juga akan tersenyum dan penuh antusias membalas sapaan Anda. Setelah itu dunia akan lebih cerah dibanding sebelumnya. Buktiin aja :)

    Ada teman saya, namanya mas Ikhwan Sopa, seorang motivator hebat (lihat websitenya di blogroll, sangat banyak artikel yang bermanfaat di sana). Dia mengkampanyekan sikap “nothing to lose” dalam menyikapi grogi. Ekstremnya gini nih : emang saya bakal dapet bencana apa sih kalau bicara nanti? apa bakal dipecat dari pekerjaan, dilemparin batu? Nggak kan? Jadi ya bicara aja dengan santai.

    Saya juga belajar dari Pak James Gwee, guru dan motivator favorit banyak orang. Pak James bilang, semakin kita fokus dengan diri sendiri, maka grogi akan semakin merajalela. Tapi kalau kita fokus pada audiens, bahwa apa yang akan kita sampaikan akan berguna buat mereka, maka grogi akan terkikis dengan sendirinya.

    Misalnya nih, kalau kita lihat tangan kita gemetar, dan kita makin sibuk mikirin tangan kita itu, maka kita makin deg-degan, dan pikiran bisa kacau. Sedangkan kalau kita lihat tangan gemetar, tapi kita lihat audience siap dengerin kalimat kita berikutnya, maka kita fokus pada apa yang kita katakan, dan tangan itu tiba-tiba hangat dan tenang sendiri tanpa kita sadari.

    Jadi, selama Anda sudah mempersiapkan diri dengan baik, materi juga sudah lengkap, santai aja. Aura santai itu akan langsung menular juga ke audiens, sama seperti waktu mas lihat teman Anda tadi.

    Duuuh, banyak amat ya saya ngomongnya, semoga nggak bingung ya mas. Saya tunggu cerita suksesnya berteman dengan kecemasan :)

Komentar