May 3rd, 2008 0leh Ninda Jogja Kategori:
Perempuan Oh Perempuan

ist
Cerita yang ketiga mengenai seorang perempuan yang membuat saya terkagum-kagum. Cara bicaranya begitu bersemangat saat menjelaskan tentang HIV AIDS, dan begitu tangkas menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Ina, sebut saja begitu, adalah seorang aktivis LSM yang sering diminta menjadi pembicara dalam berbagai forum diskusi mengenai HIV AIDS. Semula hanya itulah yang saya tahu tentang dia. Tapi kekaguman saya bertambah ketika tahu darimana energi positif yang dia miliki itu berasal.
Setahun yang lalu suami Ina meninggal dunia, karena AIDS. Setelah suaminya terbukti mengidap AIDS, barulah Ina memeriksakan diri, dan serasa hancurlah dunianya, ia dinyatakan terinfeksi HIV yang ditularkan oleh sang suami. Yang lebih dikuatirkannya adalah anak semata wayang mereka yang saat ini berusia hampir satu tahun, yang tentu juga berpotensi terkena HIV/AIDS karena virus ini juga menular melalui ASI.
Kepedihan Ina tidak menjadikannya terpuruk, justru dia bangkit, belajar, dan bertekad membantu sesamanya untuk lebih mengerti tentang HIV/AIDS.
Salah satu perjuangannya adalah mengubah stigma masyarakat bahwa mereka yang terkena HIV/AIDS pasti karena perilaku seksual yang menyimpang dan atau para pengguna narkoba yang memakai jarum suntik nggak steril. Kalau kita hanya berpikiran sesempit itu, maka orang-orang seperti Ina dan anaknya akan menjadi korban ”penghakiman” masyarakat yang sangat nggak adil.
Banyak perlakuan menyakitkan yang diterima Ina, antara lain anggapan orang bahwa dia berganti-ganti pasangan seksual, padahal dia adalah istri setia. Menjelang waktunya melahirkan pun, rumah sakit di kotanya menolak merawat dan membantu persalinannya setelah tahu bahwa ia positif HIV. Beruntung lah teman-teman LSM dan komunitas peduli HIV/AIDS membantunya mendapatkan dokter dari Jakarta yang bersedia menangani masalah ini.
Saya yakin akan banyak korban seperti Ina dan anaknya yang tidak terdeteksi kalau kita masih berpikiran sempit mengenai penularan HIV/AIDS. Sepanjang kita selalu menuduh bahwa para penderitanya adalah mereka yang berperilaku menyimpang, maka tes HIV akan dianggap memalukan, dan akhirnya kita nggak pernah tahu data yang sesungguhnya, dan nggak akan bisa mencegah penyebarannya.
Yah, saya kagum betul pada perjuangan Ina, ketegarannya, kepeduliannya, dan semangat hidupnya. Siapkah kita mendukung perjuangannya?
Kategori: Perempuan Oh Perempuan
Mbak, saya terharu betul baca ini. Selama ini saya juga berpikiran sempit tentang para penderita HIV/AIDS. Semoga pembaca lain juga terketuk hati untuk nggak menghakimi.
“Kalo anda merasa tidak punya dosa dan salah sama sekali, maka anda boleh menjadi orang pertama yang melempar batu “
HIV/AIDS? jadi ingat, sejumlah wartawan dulu pernah ditantangan tes HIV/AIDS, tapi ternyata pas hari H malah menghindar kabeh hehehe…
ternyata meskipun yakin tak terkena, nggak semua punya keberanian untuk ikut tes bebas HIV….edukasi kali ya dan kayaknya masih jadi pekerjaan berat tuh….
hmmmm, sebuah realita ini bisa membuat setiap orang terketuk hatinya. saya harap tidak ada lagi orang yang menambah penderitaan bagi mereka. berilah mereka semangat menjalani hidup ini bukan menghakimi mereka di dunia ini.
bagi penderita HIV/AIDS. saya hanya dapat berkata kepada kalian pandanglah ke depan jangan terus mengingat masa lalu dan jangan berpikir jauh kedepan. karena dunia mu adalah sekarang bukan 1 tahun lagi. dan banyak lha berbuat baik. anda pasti akan merasakan hidup ini terasa lebih menyenangkan.
jika anda sekalian ingin mempunyai target hidup yang baik adalah ” target hidup itu sekarang bukan masa lalu atau pun masa depan. karena masa depan bisa menyakitkan kita.”
Memang HIV/AIDS tidak selalu ditularkan melalui hubungan intim. Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca di majalah, seorang petenis Amerika kulit hitam, kalau nggak salah namanya Pat Cash (mohon dikoreksi kalau keliru) tertular virus HIV dari ruang praktek dokter gigi. Alat yang dipakai oleh dokter gigi tersebut ternyata tidak disterilkan sesudah dipakai untuk memeriksa pasien yang mengidap HIV. Boleh jadi pada saat mencabut gigi, ada darah pasien HIV yang tertinggal pada alat tersebut, dan menular pada Pat Cash.
Wah, jadi ngeri ya ke dokter, soalnya pasien yang datang kan nggak ditanyai, mengidap HIV atau tidak. Jika menerima suntikan, kita juga harus yakin bahwa jarum suntiknya baru dibuka dari segel.
HIV AIDS, saat ini memang harus menjadi perhatian serius.PKK selama ini sering bekerjasama dengan beberapa lembaga untuk mengetahui seluk beluk HIV juga mendengar langsung pengalaman penderita.
Sepertinya…lagi2 perempuan dan anak yang jadi korban,oleh karenanya selamatkan keluarga kita,upayakan hidup sehat secara keseluruhan sehat jasmani dan rohani.
Tapi realitanya,masih banyak hal dan persoalan dibidang kesehatan, Demam berdarah,flu burung,typhus,TBc,dll sehingga kewaspadaan masyarakat harus selalu dibangun.
Terimakasih teman teman LSM,lembaga2 yg konsen pada HIV,terus berjuang…mari bersama sama kami
Terima kasih kepada penulis yang telah membawa pesan positif kepada masyarakat luas untuk tidak memposisikan dirinya sebagai pemberi stigma dan diskriminasi kepada teman-teman orang terinfeksi Hiv.
JOTHI
“Terpenuhinya Hak-Hak orang terinfeksi Hiv tanpa stigma dan diskriminasi”
Mbak Ina saya ingin bertanya penyakit HIV itu apakah efeknya bisa membuat orang itu kaya orang linglung ?
Adik saya sudah putus asa tidak mau makan, mandi dll jadi bagaimana caranya untuk menyakinkan orang yang terkena penyakit hiv ini bakal sembuh.
saya pernah baca HIV itu bisa negatif untuk test hiv yang akurat namanya tes apa yang mbak Ina ?