Drama Musikal di Hypodrome - Catatan Event Seni di Inggris (2)
Dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR), Selasa 22 Juli 2003
…LANJUTAN…
Selama kuliah di Birmingham, saya sempat beberapa kali menonton drama-musikal di Hypodrome. Saya memang sangat suka menonton drama-musikal dan beruntung sekali banyak pertunjukan dipentaskan di gedung teater ini. Tiga pertunjukan yang sempat saya tonton adalah “Beauty and The Beast”, “Oh! What A Night”, dan “Miss Saigon”.
“Beauty and The Beast” merupakan cerita Disney tentang jalinan cinta seorang putri dan pangeran berwajah ‘monster’ yang kembali berubah tampan setelah berhasil mencintai sang putri. Si pangeran sebelumnya dikutuk oleh seorang bidadari karena dianggap sombong dan tidak tahu arti mencintai sesama. Cerita yang sudah difilmkan, baik dalam format kartun maupun serial televisi ini, ternyata menarik juga dalam bentuk drama musikal. Penonton yang hadir sangat beragam, dari anak-anak hingga para lansia.
“Oh! What A Night” bersetting tahun 70-an. Ceritanya sangat sederhana, menggambarkan perjuangan seorang anak muda, sejak menjadi seorang peracik minuman di sebuah café hingga menjuarai kejuaraan dansa seperti yang diimpikannya. Penonton berusia di atas 30 tahun memenuhi tempat duduk di Hypodrome, mungkin karena pertunjukan ini sarat dengan lagu-lagu yang ngetop di tahun 70-an seperti “That’s the Way I like It”, “YMCA”, dan “When I Need You”.
Selain itu daya tarik lainnya adalah tampilnya bintang tamu Sheila Ferguson, mantan anggota kelompok vokal the Three Degrees, yang dikabarkan sempat menjalin hubungan dekat dengan Pangeran Charles jaman masih bujangan dulu.
Adapun “Miss Saigon” merupakan salah satu drama musikal yang diberi predikat ‘wajib tonton’ oleh para pecinta seni pertunjukan ini. Drama musikal ini bersetting tahun 60-an, ketika berlangsung perang Vietnam. Ceritanya dirangkai melalui hubungan cinta dan pernikahan seorang tentara Amerika dan perempuan Vietnam yang harus terpisahkan karena perang berakhir. Banyak penonton turut menangis terhanyut oleh perjuangan perempuan itu yang berusaha untuk bertemu kembali dengan suaminya, dan mempertemukannya dengan anak mereka berdua.
Selain cerita yang memang “menghanyutkan”, ada beberapa hal yang saya kagumi dari pertunjukan-pertunjukan tersebut. Yang pertama adalah performance dari para pemain. Mereka memiliki suara yang indah, mampu menyanyi dengan baik dan penuh penghayatan, serta piawai juga menari dengan stamina yang terjaga hingga pertunjukan berakhir. Dalam “Oh! What A Night”, misalnya, mereka berdansa sambil menyanyi berkali-kali selama pertunjukan, namun tidak terlihat lelah sedikitpun dan suara merekapun tidak sampai fals. Padahal dansanya bukan sekedar slow dance lho, melainkan lebih enerjik dari gaya Inul…
Pergantian backdrop dan dekorasi dengan segala perlengkapannya yang begitu cepat juga sangat mengagumkan. Panggung di Hypodrome sebetulnya tidak terlalu luas, kira-kira 3/4nya panggung Purna Budaya. Tetapi rupanya panggung di Hypodrome didisain menggunakan lajur-lajur khusus untuk menempatkan dekor-dekor yang bisa didorong dan ditarik sedemikian rupa. Misalnya setting café berupa meja-meja tiba-tiba ditarik dan diganti dengan setting ruangan lengkap dengan tempat tidur, meja rias dan lemari pakaian. Tentu saja lighting berperan menyamarkan pergantian backdrop dan perlengkapan ini.
Kekaguman yang lain adalah penggunaan efek dan property yang seringkali mengejutkan. Dalam “Beauty and The Beast” penonton bisa menyaksikan seorang nenek- tua tiba-tiba berubah menjadi bidadari cantik dan terbang melayang di atas panggung. Dalam “Oh! What A Night” penonton dikejutkan oleh munculnya sebuah mobil tua menabrak panggung dan para pemain menari-nari di atasnya. Sedang dalam “Miss Saigon”, tiba-tiba penonton dikelilingi oleh suara helikopter dan muncullah kepala sebuah heli di atap sebuah gedung di panggung untuk mengangkut para tentara Amerika keluar dari Vietnam.
Setiap kali nonton drama musikal, saya selalu ingat Kethoprak Humor-nya Pak Timbul. Saya sering melihat penggunaan efek seperti terbang dan berubah wajah dalam beberapa cerita Kethoprak Humor. Memang belum sempurna, karena seringkali tali penggantung masih kelihatan, misalnya. Namun paling tidak, teknologi semacam ini sudah digunakan untuk membuat pertunjukan lebih menarik.
Saya sih bermimpi, suatu ketika seni pertunjukan kita seperti kethoprak dengan teknologi canggih akan dinikmati juga oleh pecinta seni pertunjukan di negara-negara lain. Mustahil ? Ngak juga ah, soalnya saya juga sering nonton opera-opera berbahasa Itali atau Perancis di BBC dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Berarti kan bukan masalah bahasa yang dianggap menjadi kendala, tetapi bagaimana pertunjukan itu tetap enak dinikmati telinga, mata, dan rasa.
Yaaa siapa tahu mimpi saya jadi kenyataan beberapa tahun lagi, dan Pak Timbul, mas Marwoto, atau Tessy menjadi salah satu bintang bertaraf internasional.
BERSAMBUNG……
Kategori: Jalan-jalan
Wah, ngiri banget saya …. Mbak Ninda bisa nonton drama-drama hebat itu. Saya pengin sekali nonton “Miss Saigon” yang musiknya digarap oleh Claude-Michel Schonberg ini. Ini drama yang berhasil meraih penonton suangaat banyak. Di Theatre Royal, London, konon ditampilkan sebanyak 4.624 kali, sementara di Broadway, New York dipentaskan hingga 4.092 kali. Busyeet …
“Miss Saigon” adalah drama nomer 2 paling panyak dipentaskan sesudah “Les Miserables”. Ada yang berpendapat, drama ini merupakan adaptasi modern dari drama “Madame Butterfly” karya Puccini. Kedua drama ini sama-sama mengisahkan wanita Asia yang ditinggalkan oleh tentara Amerika. Dalam “Miss Saigon”, wanitanya orang Vietnam, sedangkan dalam “Madame Butterfly”, si wanita adalah seorang geisha Jepang.
Di Indonesia mungkin banyak juga lho kisah seperti itu, wanita kita yang ditinggalkan tentara Belanda (doeloe) atau tentara Jepang. Ada nggak yang mau memfilmkan?
Iya mbak, pasti banyak cerita di sini yang bahkan lebih “mengguncang”..
Semoga suatu ketika nanti kita bisa nonton bareng ya…:)