”Impikan Jogja Punya Kereta Bawah Tanah”- Catatan di Inggris 2
Dimuat di Radar Jogja, Jumat 28 November 2003
…LANJUTAN…
Seperti diketahui, Inggris Raya atau the United Kingdom terdiri dari 4 bagian : England, Wales, Scotland dan Northern Ireland. Sayangnya saya hanya sempat menjelajahi England dan Wales.Kebetulan Birmingham bisa dikatakan berada di tengah-tengah England sehingga perjalanan ke arah selatan dan utara serasa sama jaraknya. Di sebelah selatan, saya mengunjungi Cornwall, sebuah county (katakanlah sebuah kabupaten) yang letaknya paling barat, kemudian London (sekitar dua setengah jam perjalanan dari Birmingham), dan Stonehenge, salah satu keajaiban dunia. Di sebelah utara, saya mampir ke Manchester, reaktor nuklir Sellafield, dan Hadrian Walls ‘sang tembok pemisah’.Cornwall memiliki pantai-pantai yang sangat indah, seperti Lands End, ujung daratan yang berbatasan dengan laut Atlantik, dengan bangunan mercu suarnya yang antik. Juga ada Portcurno, pantai yang ‘tersembunyi’ di antara dua bukit, dengan pasir putih dan laut yang nampak bergradasi dari kebiruan hingga kehijauan. Di atas bukit, didirikan Minack Theatre, tempat diselenggarakannya berbagai pertunjukan seni.
Selanjutnya saya mengunjungi Penzance, sebuah kota kecil di tepi laut. Kebetulan sahabat-sahabat saya, tiga kakak beradik, memiliki orang tua yang tinggal di sana, sehingga saya bisa menginap gratis. Maklum, saya kan mahasiswa, jadi harus ngirit he..he… Keluarga Taylor inilah yang telah berbaik hati mengantar saya menjelajahi Cornwall dan kota Penzance.
Begitu memasuki kota Penzance dari atas bukit, di kejauhan nampak laut, pelabuhan, dan perbukitan yang dipenuhi rumah-rumah penduduk. Kalau malam menjelang, perbukitan tersebut seolah berkelap-kelip dipenuhi kunang-kunang karena lampu mulai dinyalakan. Pelabuhannya juga dipenuhi lampu hias, terutama menjelang Natal. Ada yang berbentuk kapal, pohon Natal, pelaut yang sedang menjala ikan dll. Pokoknya meriah dan cantik. Saya jadi ingat suasana Jogja yang sekarang juga dipercantik dengan aneka lampu hias.
Cornwall punya makanan khas yang disebut Cornish Pasty. Bentuknya seperti pastel, tapi jauh lebih besar, saya sebut pastel raksasa. Isinya bisa daging, bisa sayuran, dan kulitnya dilipat persis seperti pastel dengan lekukan-lekukan di tepinya. Saya juga sempat mencicipi ayam spesial di sebuah restoran Meadery yang sangat terkenal di Penzance. Ayamnya memang gurih dan kulitnya sangat crispy alias kemripik. Yang unik, makannya tanpa sendok, garpu atau pisau, hanya dengan tangan.
Keluarga Taylor sempat kuatir saya nggak bisa makan dengan cara begitu. Wah, saya ketawa dan dalam hati berkata :”Belum tahu dia….” Nantilah kalau mereka ke Jogja biar saya ajak ke lesehan Malioboro, Cak Koting, Moro Lejar, atau Nyonya Suharti dan silahkan makan dengan tangan sepuasnya…
Di London, saya mengikuti program praktek kerja di BBC World Service seksi Bahasa Indonesia selama satu minggu Desember lalu. Teman-teman di BBC dengan sangat helpful mempersilahkan saya terlibat dalam pembuatan paket-paket berita untuk disiarkan. Jadi kadang-kadang suara saya mengudara juga, menjadi dubber atau narator. Saya bersyukur mendapat pengalaman menarik itu.
Setelah menyelesaikan kerja praktek tersebut, saya sempatkan putar-putar London untuk mengunjungi beberapa landmarks di sana. Big Ben misalnya, jam ‘raksasa’ yang sering disebut ‘the world’s most famous clock’ ini terletak di Houses of Parliament – Westminster, yaitu gedung parlemen tempat diselenggarakannya sidang dan berbagai debat antara pemerintah dan parlemen Inggris. Arsitektur gedung parlemen ini sangat indah, penuh ukiran baik sisi dalam maupun sisi luarnya.
Pengunjung boleh turut menyaksikan debat-debat yang diselenggarakan. Saya dan teman-teman sekelas pernah ikut menyaksikan debat tentang Kashmir beberapa bulan sebelumnya.Yang sangat menarik perhatian saya sebetulnya adalah tempat duduk para anggota parlemen. Bentuknya ‘hanya’ menyerupai bangku-bangku panjang di sisi kiri dan kanan, beberapa sap dari atas ke bawah. Biasanya pihak pemerintah dan angota parlemen dari partai yang berkuasa duduk di deretan bangku sebelah kiri, sedangkan pihak oposisi duduk di deretan bangku sebelah kanan, jadi mereka berhadap-hadapan, dipisahkan oleh sebuah meja panjang. Kalau kebetulan banyak anggota parlemen yang hadir, maka bisa saja mereka duduk ‘dempet-dempetan’ seperti anak sekolah. Saya kok jadi membandingkan dengan gedung MPR/DPR kita yang kursinya guedhé-guedhé, begitu nyamannya sampai-sampai yang mendudukinya bisa tertidur meskipun debat sedang berlangsung…he..he…
Dari Big Ben, jarak ke beberapa beberapa tempat yang cukup terkenal tidak jauh lagi, misalnya London Eye, Buckingham Palace, dan Trafalgar Square.Yang paling dekat adalah London Eye, yaitu kincir raksasa di tepi sungai Thames yang terdiri dari 32 ‘kapsul’ kaca, tiap ‘kapsul’ bisa diisi sekitar 20 orang. Kalau sudah sampai di puncak, kita bisa menyaksikan hampir seluruh pelosok London dari atas, karena tingginya bisa mencapai 130 meter dari tanah. Konon London Eye lebih tinggi daripada patung Liberty di Amerika Serikat.
Saya juga mengunjungi museum lilin Madame Tussaud. Asik juga, banyak kejutan di sana. Tidak hanya karena patung-patung itu sangat mirip dengan tokoh aslinya, tetapi juga cara menatanya yang unik. Misalnya patung Tony Blair bersebelahan dengan patung Sadam Hussein. Suatu bentuk ‘protes halus’ atas perseteruan mereka ? Entahlah…
Oya, untuk mengunjungi beberapa landmarks kota London ini, saya naik bus kota dan tube atau kereta bawah tanah. Warga Inggris cukup beruntung karena memiliki public transports yang relatif nyaman dan aman. Para lansia dan pengguna kursi roda pun mudah naik-turun bus kota karena kebanyakan sudah dilengkapi fasilitas hidrolis, bisa diturunkan sejajar dengan trotoar ketika menaikkan atau menurunkan penumpang di halte. Belum lagi program audio yang akan difungsikan di halte dan tiap bus, sehingga warga yang buta pun bisa mengetahui arah dan lokasi yang benar.
Naik tube juga menyenangkan karena kemana-mana terasa cepat sekali. Dari satu stasiun ke stasiun berikutnya hanya membutuhkan waktu sekitar 1 menit. Ibaratnya nih, kalau kita dari Gedung Pusat UGM mau ke Malioboro 1 menit. Asik kan ?
Saya jadi bermimpi, seandainya Jakarta dan Jogja punya fasilitas transportasi semacam itu, pasti sangat mengurangi kemacetan. Tapi membayangkan Jakarta yang sering banjir, ngeri juga ah, keretanya bisa ‘kelelep’ nanti. Beberapa bagian kota Jogja pun sekarang sering banjir di musim hujan. Jadi saya hapus impian saya tentang tube.
Ada teman saya yang bilang bahwa Jakarta dan Jogja itu lebih cocok punya kereta yang punya jalur di atas jalan raya. Tapi biaya untuk membangun sistem transportasi semacam itu tentu mahal sekali. Mungkin lebih rasional kalau disediakan saja bus kota yang lebih nyaman, dan bebas copet. Jadi orang nggak segan naik bus kota.
Teman saya itu juga bilang bahwa masalah lalu lintas di Jogja ini sering bikin pusing. “Predikatnya sih kota pelajar, tapi kok kalau berlalu lintas nggak kelihatan terpelajar ya ?” katanya. Dia memberi bukti bahwa banyak pengendara sepeda motor sering berbelok tiba-tiba tanpa memberi tanda, atau memacu sepeda motornya di sebelah kanan devider sehingga berlawanan dengan arus kendaraan dari depan.
Saya nggak bisa membantah, lha banyak betulnya jé. Apa pengetahuan berlalulintas sebaiknya masuk dalam kurikulum sekolah dan materi kuliah yang diajarkan seminggu sekali ya? Siapa tahu mereka itu bukannya nekad tapi memang nggak pernah tahu peraturan berlalulintas, kan dapat SIM-nya saja dulu beli, bukan ujian… Hayooo…betul nggak ?
Kategori: Jalan-jalan
Bu Tani, ini Puisi dari aku
“CAHAYA”
Hidup adalah kenyataan yang harus dihadapi, saat sedih yang harus kita rasakan adalah kesedihan maka nikmatilah kesedihan itu, disaat kita senang makan nikmatilah kesenangan itu, saat kita gembira nikmatilah kegembiraan itu, akan tetapi jangan terlampau menikmati kesemuanya itu, karena itu bisa menghempaskan kamu kedunia yang tidak akan pernah kamu sadari ternyata selain kesedihan ada kesenangan dan seterusnya dan seterusnya, jangan pernah kita merasa sendiri sebab disekitar kita ada malaikat yang senantiasa akan selalu membimbing kita, di sekitar kita ada peri-peri yang cantik yang akan memberikan lentera dalam kehidupan kita, di sekitar kita masih ada secercah cahaya yang akan menunjukkan jalan mana yang akan kita jadikan pilihan yang pada akhirnya kita akan menemukan tambatan hati yang selalu menjadi dambaan dan impian kita, bertafakur lah dan bermunajadlah kepada TUHAN karena hanya Tuhan lah tempat kita berbagi, tempat kita mencurahkan segala permasalahan, tempat kita meminta, tempat kita memohon, dan hanya dari Tuhan lah kita bisa merasakan kasih dan sayang, oh Tuhan berilah hambaMu ini secercah cahaya kehidupan agar aku mampu memilih mana yang benar-benar sebagai cahaya dalam mengarungi hidup. Tuhan oh Tuhan………..Amin
Amiiiiin….
Makasih banyak mas Harun atas puisi, harapan, doa, dan pertemanan kita yang indah.
Salam buat mbak Ninda ya (seru deh, namanya sama :))
Salam juga buat mas Ari, mas Budhi, dan semuanya.
Let’s keep the music playing….