April 20th, 2008 0leh Ninda Jogja Kategori:
Ninda Radio Announcer
Pernah nggak mikirin kenapa jari kelingking itu paling kecil dan berada di pinggir? Saya juga nggak tahu jawabannya..hehe…. Tapi yang jelas saya merasakan bahwa jari kelingking sangat bermanfaat ketika saya siaran di radio Geronimo FM. Lho, apa hubungannya ya?
Gini nih. Sebelum adanya CD, apalagi play list di komputer, dulu kami para penyiar menggunakan kaset untuk memutar lagu atau iklan. Nah ada cara khusus untuk ngepasin lagu yang diinginkan atau iklan yang harus diputar. Uniknya, kelingking sangat berperan disini.
Kalau mau dengerin lagu di CD, tentu dengan gampang kita memilih track yang kita inginkan, tinggal tekan play setelah itu. Sedangkan kalau pakai kaset kan harus di rewind atau fast forward dulu tuh sampai dengan lagu yang kita inginkan, terus kita stop, dan siap tekan play.
Ternyata, untuk keperluan siaran, itu belum cukup. Masih ada lagi cara untuk ngepasin sampai paaaaaaas banget. Artinya, begitu kita tekan play, maka lagu atau iklan harus langsung terdengar tanpa ada jeda sedetik pun.
Caranya? Gini nih. Pertama, kita cari akhir dari lagu yang posisinya persis sebelum lagu yang kita inginkan, terus stop dulu pada jeda pergantian lagu. Pokoknya saat nggak terdengar suara apapun. (Kalau lagu yang akan kita putar ada di track pertama sih lebih gampang lah). Terus nyalakan lagi dan langsung stop begitu terdengar suara, kira-kira baru sedetik tuh suara itu terdengar. Nah setelah itu keluarkanlah kasetnya, lalu gunakan jari kelingking untuk memutar gerigi pada lubang kaset yang sebelah kiri. Putar sedikiiiiit aja ke kanan alias searah jarum jam. Terus terang muternya nggak pakai rumus, cuma pakai perasaan..hehehe…

Lalu masukkan lagi ke tape, tekan tombol pause dan play sekaligus. Ketika saatnya tiba untuk diputar, kita tinggal melepas pause, maka langsung deh terdengar suara yang kita inginkan, tanpa jeda sedikitpun.
Sebetulnya bisa juga sih nggak pakai kelingking melainkan ballpoint atau barang lainnya yang pas dengan lubang pada kaset. Tapi buat kami nih, pakai kelingking itu rasanya kok lebih pas ya. Nggak tahu kenapa. Masalah kemantapan saja sih kayaknya..hehe…
So…jari kelingking sangat disayang oleh para penyiar waktu itu karena perannya cukup besar dalam membantu kelancaran siaran. Dari pengalaman itu juga lah saya belajar, bahwa kita nggak boleh meremehkan apapun dan siapapun yang ”kecil” dan posisinya di ”pinggir”.
Setuju setuju setuju?
Kategori: Ninda Radio Announcer
nggak ada rotan akarpun jadi, hehe termasuk yang jadul sekalipun hahaha…
btw busway anyway, benar juga sih. ada satu hal yang selama ini coba kuyakini mba ninda, kita bertemu dengan seseorang, siapapun dia, apapun latar belakangnya dan sejelek apapun peristiwa yang membuat kita bertemu dengannya, bukanlah kebetulan. tapi ada pelajaran yang bisa diambil sehingga membuat kita makin kaya, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual….tapi ketika kita meremehkannya, tertutuplah pelajaran itu untuk kita, karena mata dan hati kalah saing oleh setitik kesombongan yang ada walau mungkin tanpa sengaja…ehm kalau dalam fisika, hukum aksi reaksi hehehe..perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan….ya termasuk saat saya bertemu mba ninda di Jogja Plaza lalu, ternyata pelajarannya bak tercurah dari langit….
Betul betul betul….hmmm dalem banget perenungannya… Tks banget ya mbak. Kalau aku lupa, tolong diingetin ya…
gak ada kelingking…susah juga..
kapan kita bisa ngerti ayam betina kita bakal bertelur…
kelingking jg bisa jadi alat untuk ngukur telor setengah mateng..
tapi yang ini gak usah difoto bu…susah nyari alat bantunya…hehehe….
hihi…kuwi cerita lalu..aku jg sempat di jaman tsb [makanya kalo jd penyiar era skrg…kurang kreatif, lha gak pake muter sithik tapi jreng]
kalo skrg udh era digital…
apalagi kalo gawe iklan..pake backsound yg dari kaset…kudu pas tenan !
btw, kelingking pun menjadi simbol perjuangan rakyat metal! liat aja salam tiga jari..
Rock never die !