”Malioboro Perlu Banyak Toilet Bersih” Catatan di Inggris-3

Dimuat di Radar Jogja, Sabtu 29 November 2003

…LANJUTAN…

Perjalanan selanjutnya adalah ke Stonehenge, salah satu keajaiban dunia yang ada di Inggris. Bangunan batu ini terletak kurang lebih 3 jam perjalanan darat dari Birmingham, tempat saya tinggal. Teman-teman saya ngotot membawa saya ke sana karena saya selalu menceritakan dan membanggakan Borobudur. Pokoknya saya promosi bahwa Indonesia punya salah satu dari keajaiban dunia dan letaknya nggak jauh-jauh amat dari Jogja.

Mereka bilang bahwa Stonehenge memang tidak semegah Borobudur seperti yang mereka lihat gambarnya di buku saya. Bahkan ada yang mengatakan :”…just several stones” alias hanya beberapa bongkah batu. Tapi kata mereka nggak afdol lah kalau sudah setahun di Inggris tapi saya nggak pernah lihat Stonehenge.

Teman-teman saya memang betul, Stonehenge tidak lagi berbentuk lingkaran batu yang menakjubkan, melainkan tinggal beberapa bongkah batu besar yang sebagian masih tertata seperti aslinya. Bangunan batu ini dianggap istimewa karena mulai dibangun sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Konon batu-batu besar tersebut dibawa dari Wales yang jaraknya sekitar 240 miles dari sana. Maka sangatlah menakjubkan pada masa itu dapat didirikan suatu bangunan batu-batu tegak yang diatapi oleh batu-batu besar lainnya.

Yang lebih menarik perhatian saya adalah perlengkapan audio yang dipinjamkan pada pengunjung. Bentuknya seperti hand-phone panjang, berisi rekaman narasi dalam 4 bahasa tentang sejarah dan misteri Stonehenge yang bisa kita dengarkan sembari berjalan mengelilingi batu-batu tersebut.

Audio tool ini sangat menarik dan bermanfaat. Narator yang terdiri dari dua orang tersebut sangat ekspresif dalam menceritakan sejarah Stonehenge. Kadang muncul iringan musik dan sound effect yang menguatkan narasi, misalnya suara orang-orang memecah batu, serta suara angin dan burung-burung. Terus terang, bongkahan batu Stonehenge jadi lebih menarik karenanya.

Eeeeh.. saya bermimpi lagi, seandainya Tugu Jogja bisa di’berdayakan’ seperti itu, pasti lebih bermakna dan punya greget ya. Wong kita yang asli Jogja saja banyak yang nggak tahu tentang Tugu selain sekedar monumen ciri khas kota Jogja.

Perjalanan berlanjut ke Manchester, sekitar 2 jam perjalanan dari Birmingham ke arah utara. Tujuan utamanya apalagi kalau bukan melongok stadion Manchester United (MU) di Old Trafford. Meski berbekal peta yang lengkap, kami sempat tersesat begitu masuk kota ini dan kehilangan arah. Lebih parah lagi, kami malah tersesat ke stadion Manchester City dan masuk ke ‘sarang’ klub biru itu, sehingga kalau nanya arah stadion MU, nggak ada yang mau menjawab. Wah, saya baru ingat kalau akhir-akhir ini para supporter klub biru dan klub merah berantem dan bikin kerusuhan.

Untung akhirnya ketemu juga stadion MU. Didominasi warna merah, stadion ini berdiri megah di jalan Old Trafford. Di sisi depan, terdapat Megastore, toko barang-barang souvenir MU. Kami cuma mampir sebentar, sambil berharap David Beckam lewat….

Perjalanan selanjutnya kami lakukan agak perlahan-lahan karena hujan turun cukup deras. Tetapi memang di Inggris kita tidak bisa memacu kendaraan semau-maunya karena ada batas kecepatan yang harus dipatuhi. Misalnya di M5 atau M6 (jalan antar kota seperti tol tetapi gratis), kecepatan maksimal adalah 70miles/jam. Di jalan yang lebih kecil, kecepatan yang diijinkan pun lebih rendah. Bila ada perbaikan jalan atau kemacetan di beberapa ruas jalan, maka electronic sign di atas jalan akan menunjukkan kecepatan maksimum yang diperbolehkan, misalnya 50miles/jam.

Biasanya juga dipasang speed camera atau kamera pemantau kecepatan, dan pengemudi sangat ‘ketakutan’ pada jepretannya. Pasalnya, begitu kita melebihi batas kecepatan, maka kamera tersebut akan merekam nomor plat mobil kita, dan surat denda akan dikirim beberapa hari kemudian plus 3 poin pelanggaran. Kalau poin sudah mencapai 12, maka SIM akan dicabut. Pencabutan SIM ini juga akan langsung dilakukan kalau kita ketahuan memacu mobil di atas 100miles/jam.

Kami meneruskan perjalanan menuju Sellafield Visitors Centre, yaitu pusat informasi tentang reaktor nuklir di Sellafield. Masuk ke tempat ini gratis, maklumlah, soalnya pengelola justru ingin menarik perhatian orang sebanyak mungkin. Mereka menyadari bahwa pemakaian tenaga nuklir masih menjadi kontroversi di masyarakat.

Di dalam gedung bernuansa hi-tech ini terdapat berbagai informasi multimedia tentang cara mendapatkan energi nuklir, proses pendirian reaktor, sampai bahaya pembuangan limbah nuklir dan terorisme.Ada juga ruangan tempat ditayangkannya film interaktif tentang manfaat dan bahaya nuklir, dimana kita bisa turut memberi saran dan pendapat melalui komputer di hadapan kita masing-masing.

Keluar dari Sellafield Visitors Centre, hari sudah agak gelap, tapi kami masih bersemangat melanjutkan perjalanan ke satu lokasi lagi, yaitu Hadrian’s Wall, tembok panjang yang dibangun oleh tentara Romawi sewaktu menguasai England. Pembangunan tembok atau benteng ini adalah untuk mencegah serangan tentara Skotlandia dari utara.

Saya sempat membayangkan Hadrian’s Wall itu sepanjang dan sebesar tembok Cina. Ternyata tembok itu hanya tinggal setinggi pinggang yang ‘mengular’ di sepanjang perbukitan. Tapi pemandangan padang rumput dari atas bukit yang sunyi nampak begitu damai. Saya merasa lega karena telah berhasil mencapai ujung utara England. Sebetulnya kalau mau meneruskan perjalanan beberapa jam lagi, kami bisa menikmati Scotland yang terkenal dengan gunung, danau, dan castle-castle-nya yang cantik. Tetapi sebagian dari kami harus mengikuti tutorial keesokan paginya sehingga kami memutuskan untuk pulang ke Birmingham.

Kepenatan tidak terlalu terasa karena di sepanjang jalan terdapat banyak services atau tempat perhentian bagi pengguna jalan. Biasanya di dalam kompleks services terdapat pompa-bensin, mini market, restoran, dan toilet umum.

Yang membuat saya merasa nyaman adalah toilet yang cukup banyak biliknya, buka non-stop 24 jam, gratis, dan terjaga kebersihannya. Selalu ada petugas kebersihan yang tiap beberapa menit sekali membersihkan toilet, mencek kelengkapannya, misalnya memeriksa apakan tissue masih tersedia.

Wah saya jadi membayangkan betapa nyamannya melakukan perjalanan darat di Indonesia kalau terdapat services semacam itu di banyak lokasi. Saya suka sedih kalau di beberapa pompa bensin terdapat toilet yang kotor, baunya tak tertahankan, penuh lubang di pintu atau temboknya, dan airnya keruh kecoklatan.

Mungkin memang harus ada kampanye bagi para pengusaha untuk memberikan pelayanan umum berupa penyediaan toilet yang nyaman, tidak hanya di sepanjang jalan antar kota, tetapi juga di tempat-tempat umum lainnya. Saya bayangkan para wisatawan asing maupun domestik yang berjalan-jalan di Malioboro akan merasa nyaman kalau ada toilet yang besih di beberapa lokasi. Apa perlu dilombakan oleh Pak Walikota, agar semua pengusaha di sekitar Malioboro menyediakan toilet sebagai kelengkapan tokonya ? Kalau pengunjung nyaman, mungkin mereka bisa lebih lama berbelanja lho.

Memang selain itu juga harus dikampanyekan pemakaian toilet yang benar. Masa’ sudah disediakan toilet yang bersih tapi pemakainya sembarangan menghambur-hamburkan tissue di lantai, atau tidak bersedia mengguyur setelah memakai. Kesadaran untuk menghormati pemakai lain memang harus ditumbuhkan juga.

Ini sekedar bayangan saya saja, karena saya adalah seorang ‘pecinta toilet’. Sampai-sampai saya berharap ada orang yang bisa menemukan ‘ portable toilet’, bisa dilipat dan dibawa-bawa…he…he…. Saya jamin pasti laris deh…nggak hanya untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh, tapi juga untuk jaga-jaga kalau terjebak kemacetan… apalagi dalam suasana mudik Lebaran seperti sekarang. Ada yang tertarik membuatnya ?

***TAMAT***


Ada 5 komentar : “”Malioboro Perlu Banyak Toilet Bersih” Catatan di Inggris-3”

  1. […] BERSAMBUNG…… Sphere: Related Content […]

  2. mbak,
    masyarakat kita udah terbiasa dngan slogan: seluruh alam semesta adalah toilet hehehe…
    (maksudnya, mau pipis di mana aja sih oke-oke aja!)

  3. kalau gitu harus ada yang menemukan model “koyok meresap”. Tinggal ditempel di perut terus beresss..jadi tradisi dan slogan yang di dalam kurung itu (mau dimana aja sih oke-oke aja!) bisa diteruskan…hahaha..

  4. Saya punya buku “501 Must-Visit Destination” terbitan Bounty Books, 2006, Great Britain, dan Stonehenge adalah salah satu yang direkomendasikan. Dari Indonesia, obyek yang masuk adalah Borobudur, Gunung Bromo, Yogyakarta, Danau Toba & Samosir, Ubud, Kelimutu, Manado Bay, Taman Komodo, dan Bukit Lawang.

    Menurut kita yang orang Indonesia, pemilihan obyek-obyek ini mungkin agak aneh, karena beberapa obyek (seperti Gunung Bromo dan Bukit Lawang) tidaklah terlalu diunggulkan dunia pariwisata kita. Banyak obyek-obyek yang lebih menarik justru tidak masuk dalam buku ini. Mungkin kriteria mereka berbeda dengan kita ya?

    Ohya, tentang wisata di Indonesia, silahkan buka http://www.wisatamelayu.com . Portal ini menyajikan sangat lengkap obyek-obyek wisata di Indonesia maupun di beberapa negara lain.

  5. Mbak Tuti, pinjam dong bukunya…belum punya tuh, kemaren nyari di toko buku kok gak ada.
    Portal wisata melayu nya ada di blogroll sekarang…makasih banyak infonya…
    Semoga kapan2 kita bisa jalan2 sama2 ya mbak…

Komentar