Nama Suami (PoP 1)

Akhir-akhir ini, ada beberapa kejadian yang membuat saya merenungkan kembali nasib perempuan. Karena cerita saya agak panjang, maka akan saya bagi dalam beberapa episode. Saya ingin tahu juga nih komentar teman-teman, saya yakin nggak akan seragam, jadi pasti asik lah diskusi kita di sini.

Cerita yang pertama gini nih. Saat saya memandu sebuah acara televisi, dengan tema tentang peran perempuan masa kini, ada seorang penelpon yang usulannya cukup menarik. Beliau ini mengusulkan, mbok iyao di Indonesia ini, diwajibkan semua perempuan yang sudah menikah untuk memakai nama suaminya. Saya tersenyum menerima usulan ini, penginnya langsung menjawab, tapi bukan kapasitas saya lah, toh ada beberapa narasumber di situ.

Salah satu narasumber kemudian menjawab bahwa memang sebaiknya nama suami dipakai oleh para istri sebagai tanda bakti kepada suami mereka. Waduh, makin menarik nih. Narasumber lain kemudian menimpali, menyatakan ketidaksetujuannya. Beliau kemudian memberi contoh, bila namanya ditambah dengan nama suami malah terdengar lucu dan aneh.

Saya berusaha positive thinking dan menarik kesimpulan sendiri meski cuma dalam hati karena waktu-siaran sudah nggak cukup lagi.

Saya mikir, masak iya sih narasumber-pertama itu tega-teganya mengatakan para perempuan atau istri tidak berbakti pada suami hanya karena memakai nama sendiri yang diberikan oleh orang tua mereka dengan sepenuh cinta. Mungkin beliau ingin mengatakan perempuan bolah-boleh saja menunjukkan tanda bakti dan cinta dengan cara mencantumkan nama suami, atau bahkan mengganti namanya sendiri dengan nama suami 100%. Jadi intinya adalah BOLEH, bukan HARUS. Ya, saya senang dengan pikiran saya sendiri ini, saya yakin narasumber itu ingin mengatakan seperti yang saya maksud (agak maksa nih, toh cuma dalam pikiran saya sendiri kok…hehehe).

Saya juga berusaha mengerti bahwa narasumber-kedua bukan bermaksud melecehkan nama suami yang akan terdengar lucu atau aneh kalau ditempelkan di belakang namanya. Saya yakin beliau hanya ingin mengatakan bahwa perempuan pun berhak memakai namanya sendiri tanpa diembel-embeli nama suami (ada yang malah jadi kepanjangan ya, sampai susah diucapkan..hehe…)

j0433157.jpg
ist

Sebetulnya, sebelum ada telpon tadi, saya pikir soal nama ini sudah nggak jadi masalah sejak lama. Saya ingat, tahun-tahun belakangan ini saya sering mendapati undangan perkawinan yang mencantumkan nama ibu sang pengantin, bukan hanya sekedar Bapak/Ibu Siapa Itu atau Tuan/Nyonya Siapa Gerangan. Kalau dulu, waaah boro-boro deh nama ibu dicantumkan seperti sekarang ini.

Sepanjang ingatan saya juga, semua guru atau dosen perempuan yang pernah mengajar saya sejak TK sampai di bangku kuliah nggak pernah pakai nama suami tuh. Eh ada juga sih, satu dua orang, nggak banyak. Artinya, dunia pendidikan tidak mempermasalahkan soal nama ini dan menghargai perempuan- pendidik sebagai pribadi, bukan sebagai istri Pak X, Y atau Z.

Nah, silahkan berpendapat..apakah perlu nama suami dicantumkan, atau justru ada pria yang mempelopori memakai nama istri di belakang namanya sendiri? (terus terang saya belum pernah menemukan kasus ini…hehehe…).

Ada 33 komentar : “Nama Suami (PoP 1)”

  1. Saya pernah kok dipanggil Pak Susan (nama istri), waktu datang ke arisan ibu-ibu … he he he…

  2. Hehehe…seru juga ya…Tapi secara formal belum pernah kan pakai nama Pak Susan? :)
    Mas Budi ini saya kenal sebagai sosok yang sangat mengerti perempuan. Urusan domestik yang sering diidentikkan dengan perempuan, seperti memasak, ngurus jemuran dll juga nggak sungkan dia kerjakan (sori mas, agak buka kartu dikit…hehe..).
    Makasih banyak mas. Salam hormat untuk mbak Susan ya…

  3. Sebelumnya saya mau ucapkan salam kenal untuk mbak Ninda (mbak atau ibu ya?)
    Saya pendengar geronimo dan saya tau mbak mantan penyiar disana (walaupun belum pernah dengar mbak ninda siaran soalnya saya berada di jogja mulai 2003 akhir)

    Menurut saya, mungkin memakai nama suami dibelakang nama sendiri (untuk istri) karena suaminya populer. Misalnya status suaminya adalah seorang pejabat…Maka Istrinya akan bangga memakai nama suami dibelakang namanya. Tapi gak tau deh kalau suaminya orang biasa, mungkin akan tedengar lucu kalau menyelipkan nama suami dibelakang namanya sendiri :-)

  4. Hahaha…lucu juga pengamatan mas Adhie ini. Tapi mungkin juga lho ya, banyak yang seperti itu. Wajar dan manusiawi lah ikut bangga dengan prestasi suami.
    Nah saya jadi tertarik mengamati yang sebaliknya nih, apa ya yang dilakukan para suami kalau bangga dengan prestasi istri? Masang nama istri juga kah di sebelah namanya? hehe..
    Salam kenal kembali mas Adhie…selamat bergabung di komunitas ini. Thanks banget ya…

  5. lah mba ninda, banyak juga tuh yang pakai nama bapaknya…megawati malah pakai nama bapaknya bukan suaminya, buktinya meski jadi istri kiemas dia tetap pakai nama megawai soekarno putri, bukan megawati kiemas atau megawati soekarno putri kiemas…sukmawati juga pakai nama bapaknya…hehehe…istri Sumanto (yg pemakan daging manusia itu loh) juga nggak pakai nama Sumanto di belakangnnya…
    tapi kalo orang batak, wah itu dah nggak bapaknya lagi…simbahnya simbah bapaknya…(halah…) hihihihi..
    saat pilkada, jika yang nyalonin suami, istri pakai nama suami di belakang, termasuk saat suami jadi pejabat…jadi ketika nyebut nama istri, oh ini pasti istrinya pak Itu…kesannya kan jadi beda gitu loh…
    tapi kalau istri yang jd calon, ada yang pakai nama suami ada juga yang nggak…rustriningsih kan jarang-jarang pakai nama suami..tapi hillary clinton yang beda benua pakai nama clinton tuh di belakangnya…bisa karena pertimbangan adat istiadat, wangun nggak wangun alias cucok nggak cucok, dan mungkin pertimbangan marketable juga…barang dagangan kaleeee…

  6. mungkin ini adalah salah satu gaya patrialistik..sehingga menjunjung tinggi garis lelaki..

    kalo secara ekonomis, jelas bangga pake nama suaminya yg sukses..biar lebih ngangkat, lebih beken gito..
    tapi sebaliknya kalo suaminya namanya negatif…wahhhh mana mau pake embel-embel nama suami sampe tujuh turunan hehehe…

  7. istri saya dipanggil bu Singo di komplek perumahan.
    tapi, nek nama dia yang sudah bagus ditambahi nama saya, malah ora ngrejekeni. Malah medeni mahasiswanya. Yo, jar ke wae lah. “What’s in a name?”
    aku sih kepingin, Ninda Singo, maksud-e, kerjasama Ninda & Singo gitu lho…….

  8. mas Benni,
    nek dibelakang nama bojomu, dipampangkan namamu, kira-kira bagus juga ya?
    peace, man!
    kapan-kapan golek client bareng yo?

  9. Hahaha…boleh juga tuh Ninda-Singo..kayaknya bisnis ini bakal “medeni” tapi “ngrejekeni”… Naga2nya bisnis koleksi kaset-lama bakal booming deh tahun2 mendatang..hihihi…
    Eh tapi aku salut lho mas, energimu untuk memburu kaset-lama, milih lagu, mengingat masa lalu dll kok ya adaaaaa terus. Sudah cocok lah mendirikan museum kaset-jadul. Bermanfaat banget untuk sejarah musik di Indonesia khususnya.

  10. hi Mbak Nin…

    klo aku siy lebih setuju BOLEH bukan HARUS….dah susah-susah bapak ku nyari nama eh begitu nikah, harus diganti ….sayang..huehuehue..
    Maaph ga sempet kontak waktu ke jogja kemarin, bner2 kunjungan singkat, cm 1 hr…dateng selasa sore, rabu malam dah kembali ke bandung lagi…cm pengen jejekin kaki di jogja aj hehehehe

  11. Hai Imoooong….kita ini memang ajaib kalau soal ketemu dan nggak ketemu. Dulu pernah siaran bareng, habis itu ber-tahun2 gak ketemu, barusan ketemu di Aceh, dan kemaren sama2 di Jogja tapi gak ketemu juga…hehehe… Salam untuk teman2 pecinta sepeda di Banda Aceh ya…

  12. mbak Nin,
    saya masih banyak pesanan kaset bekas nih. siapa ya yang mau njual kaset 80an-nya?

    (koq malah OOT ya?)

  13. mbak Ninda,,,

    maaf,,krn macam2 kegiatan, saya lama gak nongol…menarik tuh tentang nama suami.
    waduuuuuh,,, ibu2,,tolong jangan dangkal…( eh,,maaf ada kata lain apa ya ? )ukuran bakti itu bukan diukur dgn menempel nama suami dibelakang nama kita. Buanyaaak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk menuju bakti yang sesungguhnya….yang penting saran saya…perempuan itu diberi potensi yang sama…nah,,monggo kita maksimalkan potensi kita , dalam rumah tangga. juga.dalam masyarakat.
    Insya allah…kondisi akan lebih baik…
    Karena itu saya yakin , ketika seorang perempuan mandiri secara sosial dan ekonomi, akan banyak orang2 disekelilingnya bisa dipengaruhi untuk menjadi lebih baik.
    Selamat berkarya bagi perempuan, jadilah inspirator dan motivator dalam berbagai aspek…contohnya ,,mbak Ninda itu lho……
    Salam.
    Dyah suminar

  14. Waduh Bu Diah, saya belum apa2nya kalau dibandingkan dengan inspirator dan motivator seperti Ibu. Maturnuwun sekali tanggapannya.
    Semoga diskusi semacam ini memperluas wawasan kita semua.
    Selamat bertugas bu, dan jaga kesehatan…

  15. Mas Singo, woro2 di sini boleh kok..hehe… Untuk teman2 yang tertarik tawaran mas Singo di atas silahkan kirim email ke ninda@nindajogja.com. Nanti saya teruskan ke mas Singo.

  16. apalah arti sebuah nama ? tanpa ‘value’ dari pribadi yang memiliki nama itu..

    bu Dyah juga tidak pake embel-embel nama pak Zudianto … tapi komitmen, kinerja dan semangatnya membangun warga Yogya ini..luar biasa..

    mbak Ninda mau pake embel2 nama siapa lagi nih hehehehe..

  17. Sudah audisi 5 kota Ben, tinggal disaring finalisnya…hahaha…

  18. hehehe…. aku ikut jadi komentator ya..
    bagi yg tidak terpilih, akan dibuatkan album kompilasi.. tapi kompilasi dengan album foto hihi

  19. mbak, audisi nya masih kurang banyak, paling nggak, 7 kota. setiap kota harus pake kembang 7 rupa.

    boleh pilih, rupane Benni, rupane Sujak, rupane sopo maneh yo??? :)

    peace man!

  20. Mas Benni,
    jangan hanya album foto, tapi juga boleh album cuci (sabun maksude). Adoh yo?

  21. mba, kenapa yang diambil image dua ikan mas yg satu besar n yg lain lebih keciil truzz dalam tabung kaca pula hehehe… dan kyknya sih ditaruh di atas kaca coz da bayangannya di bwh…pa perempuan msh terlalu sempit memaknai kebebasannya????sekadar kamuflase ato apa neh???

  22. Haloo .. kalo saya sih gak pernah berat2 tuh mikirnya.. Waktu masih gadis, sering pake nama bapak dibelakang (Ria Soehadi) … Tapi pas kuliah, udah punya cita2 tuh,kalo dah merried mau pake nama suami dibelakang (Ria T. Priyatmojo).Kenapa? Karena nama panggilanku Ria, sedangkan nama Ria khan banyak bangets … Sedangkan nama lengkapku Harianti Ismuninggar … kepanjangan toh… hmm …
    Sukses buat mbak Ninda.

  23. apalah arti nama…
    kita selalu berharap segala sesuatu menjadi lebih baik
    tapi kita sering lupa untuk berbuat nyata
    berbakti kepada suami tidak harus dgn mencantumkan nama suami
    tapi diwujudkan dengan tindakan nyata dan pengorbanan tanpa batas

    Good luck.. GBU

  24. Hallo..meski telat, mau ikutan koment yaa…kalau pake nama suami sebatas untuk password saja, misal ada orang cari rumah saya, kalau disebut rumah bu wilis, banyak yang pada bingung…jadi sebut juga nama suami. Terus lagi, di dunia birokrasi, lumayan efektif, terutama kalau cari Pak Camat or Pak Lurah. Kalau dikatakan Pak dicari bu Wilis, banyak kemungkinan akan dibilang TIDAK ADA di tempat. Tapi …begitu di sebut nama suami, TIBA-TIBA Pak Camat langsung ADA…Kalau aku ketemu Mba Ninda, mungkin juga lupa, jadi perlu disebut nama suami..hehehe

  25. kalo nama ……hmmm….pacar, boleh gak dicantumin?

  26. he he telat banget tp ikutan nimbrung..krn unik dan menarik topiknya. Klo aku pake nama suami di belang namaku sbnrnya berawal dari pertama kali nulis cerita di koran, nah namaku gak menjual, biar keren kutulis Lies Handoyo (nama belakang pacarku wkt itu yg skrg jadi suami). Dan sampai sekarang keterusan, dg nama panjangku ditambah nama handoyo sbg keseluruhan namaku

  27. trus meski OOT tp nyambung dikit ke Mas Singo..klo masalah kaset jadul 80-an mungkin beneran bisa dijual loh ke komunitas 80-an. Gabung aja di milisnya lapanpuluhan@yahoogroups.com

  28. hrsnya para perempuan yang “berhasil”menyeret nama suami dibelakang namanya bangga, sebab mumpung ada kesempatan membelakangkan kaum laki-laki he..he. misalnya, Moeryati Sudibyo, yang penting nama perempuan yg bersangkutan jgn sampai hilang seperti yg di alami Ibu Dibyo (agen tiket). hayo siapa tahu nama perempuan ibu Dibyo???

  29. Hahaha…lucu juga analisa mas Dibyo.

    Buat Tutik, ilustrasi ikan di atas silahkan diinterpretasikan menurut keyakinan masing2..hehe.. Tapi analisamu dalem juga…Paling asik memang mencari ilustrasi yang pas dan interpretatif…Nuwun ya..

    Buat Benni, mas Singo, album foto tolong disiapin ya..hehe..

    Mbak Sasanti, kalau nama pacar dicantumin juga yaaaa bisa gonta-ganti mulu namanya…membingungkan..hehe..

    Buat mbak Ria, mas Didi, mbak Wilis, mbak Elis.. makasih banget sudah bikin diskusi ini tambah seru.. seru dan seru……..

    Yang masih mau ikutan diskusi soal ini….monggoooooo…

  30. Ada cerita nih…konon Astuti sempat protes karena sebetulnya yang mata keranjang dan suka nakal menggoda wanita tuh suaminya, yang bernama pak Aya…. tapi, di kampungnya, Astuti-lah yang kerap dijuluki dan dipanggil “bu Aya”…..kasihan…hehe

  31. hahaha…kelihatannya cerita lucu tapi sebetulnya dalem tuh maknanya….
    thanks mbak..

  32. mbak, mbok sekali2 foto2 blogger aktifnya ditampilin fotonya, biar yang laen tahu betapa ganteng & cuanteeknya mereka, biar pada tahu wajahnya kayak benni, imoong, singo, sujak, bu dyah, dll, pasti tambah asik dan gayeng deh.

  33. sik…sik…sik….perlu dijelaskan dulu neh. pernah menikah atau masih terikat pernikahan neh harus jelas dulu. lah nek janda trus piye… masak ya sebutin nama mantannya… he..he… ( ini ra nyinggung sapa2 lho…) atau nek terikat tali pernikahan tapi nikah sirri apa ya harus disebutin. Jadinya gak sirri lagi donkk…bingung to…lah wong sampai sekarang banyak yang manggil saya sulist bernas padahal udah bertahun2 ga di Bernas. Mbak Ninda juga masih populer dengan Ninda Kariza.Lah kalau diganti, orang malah jadi bingung kok… He..he…

Komentar