Dulu saya nggak pernah bercita-cita jadi seorang MC/Pembawa Acara, presenter radio dan televisi, atau trainer dan pembicara seperti sekarang. Gimana mau bercita-cita, saya dulu tuh pemalu berat. Jaman sekolah dulu pun rasanya susah mau ngomong atau bertanya di kelas. Tapi untungnya saya masih mau gabung di berbagai aktivitas sekolah seperti OSIS (sampai jadi pengurus juga di SMPN 5 dan SMAN I), pleton inti alias baris-berbaris (sampai pernah jadi komandan terbaik se DIY lho jaman SMA dulu, nggak ngira ya..:)), paduan suara, vocal group, dll. Dari berbagai aktivitas itu lah saya merasa keberanian saya diasah. Jendela-jendela kehidupan saya dibuka satu-persatu oleh Tuhan. Dan betul, saya merasakannya sekarang…

Menjadi seorang MC profesional juga nggak semudah yang disangka orang. Banyak lho yang suka kasih komentar :”Enak ya jadi MC, kerjanya gampang, duitnya banyak. Padahal cuma ngomong dikit-dikit plus senyum-senyum”. Hmmmm….not that easy guys….

Paling-tidak, saya sendiri bekerja-keras untuk setiap penampilan saya, baik di acara resmi maupun acara santai. Dua-duanya menuntut persiapan, latihan, kemampuan beradaptasi, kemampuan menyerap informasi, kemampuan bicara dan mengolah kalimat yang tepat, penampilan yang sesuai dengan jenis acara, dan kepekaan akan situasi sehingga siap terhadap perubahan yang mungkin terjadi. Jam-terbang alias pengalaman akan memberi tambahan rasa percaya diri, ilmu, dan kematangan diri.

Jendela panggung yang terbuka, benar-benar memberi saya dunia baru yang penuh perjuangan. Mendobrak sifat pemalu saya, beradaptasi dengan berbagai lingkungan kerja dan karakter manusia, mengelola waktu dan energi supaya bisa tampil bagus, terus-menerus menambah wawasan dengan banyak membaca dan bergaul, menerima dengan arif segala kritikan dan pujian. Fiuuuuh…itu semua bisa sangat sangat melelahkan lahir-batin. Tapi kalau dinikmati setiap detiknya, maka semua menjadi jalinan langkah yang berarti dan menyenangkan….seterjal apapun jalan itu… Kadang memang perlu berhenti untuk mengambil nafas panjang supaya bisa melanjutkan lagi perjalanan yang masih mendaki… Well, life is a journey

Berawal jadi protokol upacara di sekolah, MC acara 17-an di kampung, MC acara wisuda di kampus, rasa percaya diri itu bertambah ketika diterima sebagai penyiar di Radio Geronimo Jogja tahun 1988. Sambil kuliah (di Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada), saya mulai belajar membagi waktu, energi, dan perasaan sebagai seorang profesional. Ya, satu lagi daun jendela itu terbuka…dan saya melihat sesuatu yang lebih luas lagi di sana…

Cerita tentang saat-saat menyenangkan di Radio Geronimo FM click di sini

Sejak itulah aktivitas lain susul-menyusul saya tekuni. Permintaan menjadi MC di berbagai acara mengalir, benar-benar mengasikkan, tapi juga diwarnai jatuh-bangun nggak keruan. Saya merasa inilah sekolah kehidupan yang sebenar-benarnya. Saya belajar menjadi diri sendiri sekaligus bersosialisasi alias menjadi makhluk sosial yang harus pandai beradaptasi.

Tawaran menjadi host acara-acara TVRI Jogja pun kemudian berdatangan. Sebelumnya, saya sering mengisi acara di TVRI Jogja sejak SMA tapi bukan sebagai presenter melainkan menyanyi (nggak berani bilang sebagai ”penyanyi”, karena saya memang cuma bisa menyanyi beberapa lagu yang saya suka dan kebetulan nadanya bisa saya jangkau). Entah itu vocal-group SMA 1, nyanyi dengan band Chavero (mas Arya Nurdika cs) dengan Geronimo Band dll. Terus-terang kalau lihat lagi rekamannya, saya ketawa sendiri. Habis, jadul banget sih, potongan rambut dan baju-baju saya rasanya ajaib banget deh untuk ukuran sekarang..hehehe… Terimakasih untuk teman-teman TVRI Jogja (mas Suryatmo, mas Tomo, mbak Titi, alm mas Harry dll…)

Cerita tentang pengalaman di TVRI JOGJA dan JOGJA TV click di sini

Menjadi seorang MC-panggung kemudian menjadi bagian penting dalam hidup saya. Tidak lagi hanya dalam acara-acara remaja dan santai, melainkan juga sebagai pembawa acara dalam kesempatan resmi. Beruntung lah saya hidup di Jogja, karena daerah istimewa ini begitu sering menjadi tuan rumah acara-acara berskala nasional maupun internasional.

Berbagai acara konvensi, pisah-sambut pejabat instansi, penyerahan penghargaan kepada insan berprestasi, sales gathering, pagelaran seni kolosal dll menjadi tempat belajar yang luar biasa berharganya bagi saya. Salah satu acara yang paling berkesan adalah menjadi MC dalam sebuah konvensi yang menghadirkan Perdana Mentri Malaysia (saat itu) DR. Mahathir Muhammad ( 21st Cafeo Conference).

Profil teman-teman Event Organizer click di sini

Yang juga menyenangkan dari pekerjaan ini, saya bisa mendapat kesempatan mengunjungi berbagai daerah di Indonesai. Selain MC di kota-kota besar maupun kecil di Jawa, termasuk di Jakarta, saya beberapa kali ke Medan, Jambi, Padang, Dumai, Pekanbaru, Bontang, Pontianak, Denpasar, Sumbawa Besar, dan Tembagapura Papua. Memang saya tidak selalu punya kesempatan jalan-jalan karena jadual yang ketat dan harus segera kembali ke Jogja. Namun selalu ada kenangan khusus di tiap kota. Misalnya, gara-gara penundaan penerbangan dari Jogja yang mengakibatkan saya ketinggalan pesawat berikutnya dari Balikpapan menuju Bontang, maka saya terpaksa jalan-darat lebih dari 7 jam dan baru sampai Bontang lewat tengah malam (terimakasih untuk Bpk&Ibu Agus serta teman-teman dari PT KMI Bontang atas atensi dan seafood yang super lezat….yummy….).

Juga pengalaman seru naik bus Freeport menembus malam mendaki perbukitan/pegunungan dari Timika ke Tembagapura yang seolah merupakan perjalanan di atas awan, karena awan terasa begitu dekat di sekeliling bus yang kami tumpangi (terimakasih untuk mas Lilik Hasto dan teman-teman dari PT Freeport Indonesia atas pengalaman yang seru selama di sana) .

Yang nggak terlupakan juga adalah menjadi MC serangkaian acara di tiga kota di Jepang, yaitu Osaka, Kyoto, dan Nagoya, dalam rangka maiden flight Garuda Indonesia (September,1994). Terimakasih untuk mbak Sita Laretna, mas Aki Adishakti, dan Pak Syahrul dan teman-teman Garuda Indonesia atas pengalaman indah ini. Wow…tiba-tiba teringat kembali pengalaman menyenangkan, lucu, tegang, dan haru selama di sana.

Jelas menyenangkan, karena saya berkesempatan mengalami hal-hal baru seperti naik kereta api tercepat Shinkansen yang memang luar biasa cepat dan bersih. Juga asik banget putar-putar naik sepeda di kota tua Kyoto, menyusuri sungai, mengunjungi kuil, memborong cinderamata unik, sambil jajan es green-tea…hmmmm…

Menegangkan, karena saya sempat kehilangan dompet plus paspor gara-gara keteledoran saya sendiri di hari pertama setiba di Kyoto. Maksud hati menelpon suami dan keluarga di Jogja, tanpa sengaja saya tinggalkan dompet di boks-telpon. 15 menit setelah itu, begitu saya sadar dompet saya nggak ada, saya kembali ke boks-telpon itu tapi dompet sudah lenyap. Tapi syukurlah orang Jepang jujur-jujur dan super baik. Saat saya dibantu mbak Sita dan seorang mahasiswa Indonesia yang sudah fasih banget berbahasa Jepang melaporkan ke kantor polisi terdekat, ternyata dompet saya telah ada disana, utuh seisinya! Terimakasih untuk yang sudah menemukan dompet saya dan para polisi..

What a day!

Pengalaman lucu terjadi sewaktu kami, rombongan dari Garuda Indonesia di Osaka, bersiap-siap menyambut kedatangan pesawat Garuda dari Indonesia menandai penerbangan pertama Jakarta-Osaka di bandara yang baru, Kansai International Airport. Ya memang saat itu bandara baru Osaka, yang didirikan di atas sebuah pulau-buatan, baru resmi beroperasi. Saya bersiap-siap juga menjadi MC karena setelah mendarat maka akan ada sedikit seremoni di ruang kedatangan. Banyak pula ibu-ibu berpakaian tradisional Indonesia yang bersiap menantikan kedatangan pesawat yang berisi puluhan wartawan dari Indonesia serta para pengusaha biro perjalanan.

Lucunya, saat diumumkan bahwa pesawat sudah mendarat, kami baru sadar kalau salah ruangan. Ternyata para penumpang akan keluar melalui pintu lain yang lumayan jauhnya dari tempat kami menunggu saat itu. Waaaah, langsung deh kami berlari sekencang mungkin supaya bisa mendahului penumpang. Kasihan ibu-ibu yang bersarung dan berselop tinggi. Sambil masih ngos-ngosan akhirnya seremoni bisa berlangsung juga….hehe.. pengalaman seru abad ini…

Ada dua pengalaman yang membuat saya terharu sewaktu di Jepang. Pertama adalah pertemuan dengan teman saya SD di Salatiga dulu, yang sedang melanjutkan studi di negara itu. Pertemuan yang tak terduga yang tiba-tiba melempar saya pada kenangan lama di Salatiga. Bayangkan, nggak pernah ketemu sejak lulus SD, malah ketemu di negara yang jauuuh banget.

Pengalaman lain yang mengharukan adalah saat saya berkesempatan menyanyikan di atas panggung lagu Indonesia Pusaka dalam acara Cultural Night di Nagoya. Lagu itu terasa begitu indah dan membuat saya merinding menyanyikannya. Rasanya dada sesak ingin meneriakkan ”Aku cinta Indonesiaaaaaa”.

Serius, itu momen yang sangat sensasional dan monumental buat saya.

Yang begitu saya syukuri dari pekerjaan sebagai MC selama ini, adalah kesempatan bertemu begitu banyak orang dan belajar apapun dari mereka. Betapa bahagianya ketemu dengan seorang pribadi seperti Mbak Endang di Pusat Rehabilitasi YAKKUM Jogja, yang bersuara emas, dan dengan kepercayaan diri yang luar biasa, menyanyi sangat enerjik di atas kursi rodanya. Saya bisa belajar kesabaran, keikhlasan, sikap pantang menyerah dan rasa percaya diri dari seorang difabel sehebat mbak Endang.

Betapa bersyukurnya ketemu dengan sosok-sosok seperti Bapak Soeseno Haryo Saputro (Direktur Utama Bumi Putera) & Ibu Tatik Soeseno yang tiap tahun menyerahkan bantuan beasiswa bagi ribuan anak di Klaten dan sekitarnya (sekarang memasuki tahun ke-10). Tiap kali saya menjadi MC acara ini, tiap kali pula saya belajar dari keluarga ini, bahwa mensyukuri berkat Tuhan itu tidak cukup hanya diucapkan dalam hati, tapi diwujudkan untuk sesama, sekecil apapun bentuknya.

Masih begitu banyak kebahagiaan lain yang saya dapatkan sepanjang pertemuan dengan banyak orang. Betapa bahagianya, ketemu di berbagai kesempatan dengan orang-besar yang bersahaja, atau ”orang besar” yang arogan dan gila-hormat. Betapa bahagianya belajar dari orang-orang yang dianggap ”kecil”, padahal ilmu dan kearifannya luar biasa. Semua orang adalah guru saya…

Tuhan tidak hanya membuka jendela panggung bagi saya, tapi sekaligus jendela-jendela kehidupan lainnya. Dan saya makin yakin..tidak ada sedetikpun waktu saya di masa lalu yang tidak berguna bagi masa kini dan masa depan saya…