Ninda TV Presenter

Saya mulai mengenal hebohnya dunia televisi saat masih di bangku SMA sekitar tahun 1984. Waktu itu saya jadi anggota vocal-group yang beberapa kali diminta mengisi acara di TVRI Stasiun Yogyakarta (sekarang disebut TVRI Jogja). Setelah itu berkali-kali juga saya menyanyi dengan iringan band yang berbeda-beda. Pernah diiringi Chavero band (mas Arya Nurdika dkk), band-nya mas Yuana Arifin, juga orkestra RRI, dan Geronimo Band.

Kehebohan yang saya maksud adalah ribetnya kerja tim yang mungkin nggak bisa terlihat oleh penonton ketika menyaksikan sebuah tayangan televisi. Heboh atau ribet tapi asik, itu yang saya rasakan. Dan saya belajar banyak tentang pentingnya team work yang baik antara pengisi acara dan kru televisi, perlunya menjaga kekompakan, menghargai satu sama lain, dan ketepatan waktu, untuk menghasilkan sebuah tayangan televisi yang barangkali hanya berdurasi beberapa menit saja.

Soal ketepatan waktu memang bisa berdampak besar, terutama pada siaran langsung. Nah payahnya, kalau siaran-tidak-langsung alias rekaman, soal ketepatan waktu ini sering diremehkan. Padahal dampaknya bisa besar juga lho, rekaman bisa mundur cukup lama, bahkan ber-jam-jam, gara-gara mulainya telat. Dan penyebab telat ini bisa karena sebagian pengisi acara datang terlambat, atau kru yang belum siap dengan setting studio, atau kendala-kendala lain.

So, menunggu ya harus dinikmati. Justru dari pengalaman inilah saya belajar untuk selalu berusaha nggak datang terlambat. Karena keterlambatan saya pasti berdampak pada yang lain. Kalau semua orang berpikir :”Ah dateng telat aja, toh biasanya juga telat dan paling-paling rekaman mundur” ..duh..kapan mulainyaaaa…. Yang jelas, saya merasa lebih nyaman nunggu (dan masih bisa melakukan sesuatu, membaca misalnya) daripada ditunggu (plus dimusuhin orang..hehe..). Sebisa mungkin nggak datang telat lah.

Saya menikmati betul acara-acara yang saya bawakan di televisi, karena cukup variatif dan punya misi yang jelas. Ada kuis, talkshow dengan berbagai topik serius maupun santai, musik, juga penggalangan dana untuk korban bencana seperti tsunami di Aceh-Sumatera Utara, serta gempa di DIY-Jateng. Program-program semacam inilah yang membuat saya betah membawakan acara-acara di TVRI JOGJA dan JOGJA TV.

Sebagian teman ’memprovokasi’ saya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :

Kenapa sih nggak pindah Jakarta aja? Etos kerja kamu udah sesuai dengan ritme Jakarta, skills udah dapat dari pengalaman bertahun-tahun, soal ilmu juga udah nambah dengan sekolah journalism di Inggris. Di Jakarta jelas lebih banyak kesempatan untuk lebih berkembang, lebih ngetop dan materi akan mengalir lebih banyak”.

Saya hanya tersenyum dan menjawab sembrono :

Nggak ah, kasihan Gubernur DKI kalau ketambahan satu orang pendatang lagi..hehe..”.

Intinya, bagi saya Jogja bukan batu loncatan, tapi saya memang tinggal disini dan berusaha berbuat sebaik mungkin untuk kota tercinta ini. Kalau pun suatu saat nanti saya harus tinggal di kota lain, Jakarta misalnya, bukan karena saya merasa di Jogja sudah nggak bisa ngapa-ngapain lagi.

Mungkin belum banyak yang saya lakukan untuk Jogja, tapi semoga yang sedikit ini bisa memberi manfaat.

Ada 2 komentar : “Ninda TV Presenter”

  1. Kamu ttp manis bgt spt dulu, inget gak ? Nggondhuk ? He he cuma kmu yg pass

  2. Waduh terimakasih banyak mas. Masak sih cuma aku yang pas bilang “nggondhuk”?.. hahaha..lucu banget istilah ini…

Komentar