Rose sampai Kristina (PoP 2)

j0433055.jpg
ist

Cerita kedua, adalah hasil rumpian dengan salah satu sahabat saya, yang membuat saya jadi agak emosional. Dia punya saudara, sebut saja Rose, yang saat ini berusia sekitar 45 tahun.

Rose adalah salah satu contoh perempuan yang tegar menghadapi kerasnya hidup. Demi ketiga anaknya, dia kuatkan diri bekerja sekeras apapun, termasuk menjadi sopir angkutan di pelabuhan salah satu kota besar di negeri kita ini.

Ternyata keadaan ini jauuuuuh berbeda dengan yang dialaminya beberapa tahun lalu. Rose dulu adalah perempuan-pekerja yang cukup mapan. Setelah menikah, karena usaha suaminya cukup berhasil, maka si suami meminta Rose untuk tidak lagi bekerja dengan alasan supaya lebih punya waktu untuk suami dan keluarga.

Singkat cerita, kehidupan nggak selamanya berjalan seperti yang diharapkan. Sang suami mulai tidak disiplin dalam pengelolaan keuangan perusahaan, sehingga perusahaan mulai mengalami kebangkrutan. Terjuallah semua aset, sampai rumah warisan orang tua Rose pun dijual demi menutup semua hutang.Tidak cukup sampai disitu, sang suami meninggalkannya, dan memilih tidak bertanggung jawab atas ketiga anak mereka.

Saudara dan teman-temannya sering menyesalkan apa yang terjadi dengan Rose. Mereka masih ingat betapa dulu Rose adalah pelajar dan mahasisiwi yang punya prestasi gemilang. Ketua OSIS dan organisasi lainnya, juga seabreg kegiatan saat kuliah, namun tetap bisa lulus dengan nilai cemerlang. Karirnya pun terbilang mulus di sebuah perusahaan multinasional. Teman dan saudara miris melihatnya sekarang berteman keringat dan kekumuhan area pelabuhan.

Pertanyaan dan sesal yang kemudian muncul di hati mereka: kenapa dia mau disuruh suami berhenti kerja? Kenapa dia mau melepaskan rumah warisan orang tua demi hutang suami? Kenapa dia nggak ketat mengawasi bisnis suami sampai bangkrut begitu?

Duuuh ikut pusing saya. Pertanyaan-pertanyaan itu memang mudah kita lontarkan. Tapi kalau kita mau mencoba berada di posisi Rose, sanggupkah kita menjawabnya?

Rose memilih untuk tidak menjawab, dan tegar mengambil langkah mengatasi permasalahan hari demi hari. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan berusia di atas 40 tahun yang sudah lama meninggalkan dunia kerja, memiliki 3 anak, selain berusaha bertahan dan berjuang sekuat mungkin tanpa harus terbebani dengan sesal masa lalu?

Masih banyak Rose-rose lain di sekitar kita, bahkan yang kondisinya lebih buruk lagi. Mereka yang memilih atau terpaksa meninggalkan pekerjaan dan karir karena beban sosial yang dilekatkan dalam kaitannya dengan peran sebagai istri dan ibu. Namun ketika keadaan berubah, masih juga mereka menanggung beban sosial yang berat.

Hmmmm….saya mau tanya Kristina Al Amin dulu ah tentang perasaannya, siapa tahu dia punya kiat cespleng menanggung beban sosial seperti itu. Tapi dia sudah terlalu banyak ditanyain ya, sama wartawan, teman, KPK dll. Kasihan juga.

Ya sudah kalau gitu, siapa saja yang mau berpendapat silahkan. Semoga jadi diskusi yang bermanfaat.

Ada 4 komentar : “Rose sampai Kristina (PoP 2)”

  1. ada yang pingin aku share..di jendela mba ninda, boleh ya….
    aku pernah dapat cerita…tatkala seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya… “Mengapa engkau menangis, duhai ibunda?”

    “Karena aku seorang wanita”, jawab sang ibu.”

    “Aku tidak mengerti”, kata anak itu.

    Ibunya hanya memeluknya dan berkata,
    “Dan kau tak akan pernah mengerti”

    Kemudian anak laki-laki itu bertanya
    kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa
    alasan?”
    “Semua wanita menangis tanpa alasan”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

    Anak laki-laki kecil itu pun lalu
    tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

    Akhirnya
    ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?”

    Tuhan berkata:

    “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan ”

    “Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya ”

    “Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh ”

    “Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya ”

    “Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya ”

    “Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu ”

    “Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan”.

    “Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.”

    Kau tahu kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.

  2. Menurut saya kemandirian ekonomi buat perempuan itu perlu sekali. Biar nggak diperlakukan seenaknya. Saya nggak benci laki-laki, tapi contoh di atas menunjukkan bahwa perempuan seringkali nggak berdaya.
    Makasih mbak Ninda sudah memuat cerita ini.

  3. mbak nind…
    kalo lia lebih memilih untuk melihat kebesaran dari Tuhan mbak.
    kita akan selalu diberi 2 sisi dalam kehidupan. kelebihan-kekurangan, kekuatan-kelemahan, baik-buruk, dimana akan terjadi keseimbangan yang hakiki.
    Tuhan memberikan cobaan kepada umatnya untuk menjadi lebih baik dan kuat dan naik ke dalam tingkatan dalam hidup yang lebih tinggi.
    kangen mbak…. :)

  4. Wah..Lia tambah bijaksana…:)
    Kangen juga nih, kalau pulang Jogja kasih kabar ya cah ayu…

Komentar