Hai Yang Bertelinga…
Seperti biasa, tiap Minggu malam pukul 20.30-21.30 saya siaran di Jogja TV dalam acara Dokter Kita bersama mas Heru Nugroho. Topiknya selalu berganti tiap minggunya, dan saya selalu merasa bertambah pengetahuan tentang kesehatan seusai membawakan acara ini. Untuk itu saya ingin berbagi, mulai minggu ini saya akan tulis secara rutin hal-hal menarik dari topik Dokter Kita.
Semalam topiknya adalah Deteksi Tuna Rungu dan Kurang Pendengaran, bersama dr Kartono Sudarman, Sp THT (K) dan dr. Siswanto Sastrowiyoto, Sp THT, MH. Saya rasa banyak di antara kita yang nggak terlalu peduli dengan masalah ini karena merasa pendengarannya baik-baik saja. Padahal mungkin sekali kita melakukan hal-hal yang beresiko merusak pendengaran. Mau tahu? Ini nih antara lain:
1. Suka mengorek-ngorek telinga dengan cotton buds dengan maksud untuk membersihkan telinga dari kotoran yang melekat di dalamnya. Rupanya ini cukup berbahaya apalagi kalau kita memasukkan cotton buds atau pengorek itu terlalu dalam sehingga bisa mengenai gendang telinga. Belum lagi kemungkinan kapas pada cotton buds justru tertinggal di dalam telinga. Nah, supaya nggak terjadi hal-hal yang dapat mengurangi pendengaran, lebih baik kita ke dokter THT untuk membersihkan telinga secara rutin beberapa bulan sekali. Prosesnya cukup singkat dan nggak sakit kok. Yang jelas, telinga memang perlu dibersihkan, dan kita cukup sulit melakukannya karena nggak bisa melihat langsung bagian yang harus kita bersihkan.
2. Suka mengeluarkan (maaf) ingus melalui hidung dengan menghembusnya kuat-kuat. Hal ini cukup berbahaya karena justru bisa terdorong ke telinga bagian dalam, dan mengakibatkan infeksi. Kata dokter Kartono, cara yang baik justru menghirupnya dan kemudian megeluarkannya melalui mulut. Atau menghembuskannya dengan satu lubang hidung tertutup sementara mulut terbuka. Hal ini untuk membagi hembusan udara yang kuat dari paru-paru ke 3 saluran, yaitu mulut, hidung, dan saluran yang menuju telinga, sehingga nggak terlalu menekan alat pendengaran kita.
Sampai dengan usia 2 bulan, bayi akan bereaksi ketika mendengar bunyi-bunyian, dengan cara mata mengedip dan jari tangan mencengkeram. Di atas 2 bulan, bayi akan mampu mencari sumber bunyi itu dengan mata atau tolehan kepalanya. Jadi lakukan tes sederhana itu dari belakang atau sampingnya, bukan di depannya.
Kategori: Ninda TV Presenter, Tips Sehat

Sebagai partner kerja saya sangat bangga, mba Ninda sangat smart dan cepet sekali menangkap substansi tema pembicaraan yang hanya dikupas kurang dari 1 jam untuk selanjutnya dapat dikemas dalam bentuk naratif yang informatif @ edukatif pada masyarakat luas dan sampai kapanpun dapat terus dibaca. Moga moga banyak saudara kita yang terbantu dengan kampanye preventif kesehatan yang sedang kita jalankan berdua tentunya agar masyarakat luas sehat walafiat jangan sampai sakit. Amin- Amin
Terima kasih atas tips yang diberikan terutama bagi kami yang belum tahu betul tentang cara membersihkan baik telinga maupun hidung.
Selama ini saya sering membersihkan telinga anak saya (3,5 th) dengan cotton buds tetapi untuk kotoran yang terlihat/ di daun telinga, biar tidak terlihat jorok, hi…. ternyata salah langkah. Gimana biar anak saya berani ke dokter THT.
Sarannya tak tunggu ya Mbak.
Terima kasih banyak.
Ass.Wr.Wb.
Wah…mujarab sekali topiknya, saya paling suka bersihkan telinga sendiri, apalagi sesudah mandi. Setelah baca tulisan ini jadi ngeri juga ……
Semoga banyak yang baca web ini, srhingga info-info penting cara hidup sehat yang bisa diterapkan dalah kebiasaan sehari-hari mudah diakses dan gratis……
Trimsssssss…….berat ……….
wah…wah…wah, hebat betul dokter yang ditampilkan mbak ninda bersama mas heru nugroho. tapi ngomong-ngomong soal korek-korek telinga tuh, sebenarnya mengasikkan juga apalagi sambil nyantai dan nongkrong, eh ternyata…buahayanya bisa bikin kita jadi “budeg” alias tulalit.jadi ngeri juga !! hal yang asyik jadi isyak………he..he…he, belum lagi kalau parah, apabisa pakai askeskin juga yaaa…….kan cuma sakit telinga, pemerintah gak bakalan deh njamin orang ‘budeg’ he….he…he…he. makanya mari kita jaga juga telinga kita biar Plong..plong tenan, Sukses buat mbak ninda dan mas heru..
seumur-umur baru ngrasain bersihin telinga yang ongkosnya mahhhal!!! tul mba ninda, gara-gara kapas cotton buds-nya malah nyungsep di dalam and ndak mau diajak keluar…suebel!!kapasnya manja hehehe, minta dikeluarin ma dokter!! untung dokternya dapat yang muda, cakep pula…hehehe
Hahaha…paling bisa deh Tut…jangan-jangan bentar lagi pada minta alamat praktek dokter itu ke Tutik gara-gara pada pengin bersihin kuping sekaligus mata alias “cuci mata”
Untuk Pak Banu, mas Heru, Fian, dan mbak Bu Wiwi, terimakasih banyak. Syukurlah kalau tulisan ini ada manfaatnya.
Bu Wiwi, sebelum mengajak putra Ibu ke Dokter THT, ada baiknya Ibu sendiri mencoba treatment ini (kalau belum pernah sama sekali) sehingga bisa tahu persis rasanya kalau telinga dibersihkan dengan alat tersebut. Nah, setelah itu barulah berkreasi dalam menjelaskan dan mengajak putra Ibu sehingga dia merasa nyaman dan senang menjalaninya.
Oya, seringkali anak2 nggak mau atau takut ke dokter karena sering ditakut-takuti, misalnya :”Ayo dihabisin makannya, nanti Mama bawa ke dokter lho kalau nggak mau makan.” Yang seperti ini bisa bikin anak-anak merasa serem duluan kalau diajak ke dokter. Mungkin orang tua nggak begitu, tapi pembantu atau babby sitter yang melakukannya. Maka ada baiknya mereka juga kita beritahu untuk tidak menakut-nakuti anak-anak seperti itu.
Saya lihat sekarang banyak Rumah Sakit yang menerapkan suasana nyaman di klinik anak-anak. Ruangan dicat warna-warni, disediakan permainan dll. Beberapa ruang praktek dokter gigi juga menerapkan hal ini. Saya rasa ini strategi yang sangat baik untuk membuat anak-anak merasa nyaman dan nggak serem saat diajak periksa.
Semoga Ibu bisa menemukan klinik THT atau klinik Anak yang seperti ini.
Kalau teman-teman lain punya saran untuk Bu Wiwi silahkan lho. Saya nggak punya pengalaman yang cukup tentang mengajak anak-anak ke dokter…hehe…
Saya sangat senang sekali mendengar mbak ninda akan menulis tentang hal2 menarik yang didapatkan di Dokter Kita. Saya punya saran, gimana kalo NInda Dokter TV dibuat kategori sendiri (tidak digabung dengan Ninda TV Presenter), agar para pembaca yang membutuhkan info2 kesehatan dapat langsung ke kategori tersebut (siapa tau suatu saat nanti tulisan mbak bisa dibukukan seperti bisik2 remaja)
Ngomong2 tentang telinga, saya termasuk orang yang bermasalah dengan telinga karena kotoran telinga saya keras membatu. Pernah saya pergi ke Dokter THT untuk membersihkan telinga, tapi karena kotorannya sudah sangat membatu maka sangat sulit sekali untuk dikeluarkan. Bahkan saya hampir pingsan pada waktu itu… Lalu saya diberi semacam pelumas untuk diteteskan ke telinga dan dokternya menyarankan untuk kembali lagi satu minggu berikutnya. Karena “hampir kapok” dengan dengan dokter tersebut, minggu berikutnya saya berobat ke dokter THT yang lain,hehehe…
Terimakasih mas Adhie, usul diterima dengan senang hati. Nantinya ada kategori baru yang khusus untuk isu-isu kesehatan seperti ini.
Wah pengalaman mas Adhie ini mungkin juga dialami banyak orang lho. Makasih sudah berbagi dan bikin kita lebih peduli lagi pada kuping masing-masing dan kuping orang-oarng yang kita cintai
Mas Adhie Yusnadi memang kotoran telinga (cerumen) direkomendasikan setiap 6 bulan dibersihkan tentunya dengan bantuan alat medik berupa otoschop dan suction, dan bila > 6 bln tidak dibersihkan akan jadi keras (cerumenprof) dan akan menutupi liang pendengaran jadilah budeg he he. dan prosedur dokter THT yang pertama tadi udah betul Mas….telinga ditetesin cairan yang namanya Perhydrol 1-3 kali/hari dengan maksud cerumen yang keras jadi lembek dan seterusnya mudah disuction. he he…untung dokter THT yang lain tinggal suction jadi plong.
Indera yang paling awal berfungsi ataupun berespon adalah indera dengar, oleh karena itu banyak ahli yang merekomendasikan stimulasi bunyi2an selama bayi tersebut masih dalam kandungan, yang ditengarai akan bisa menstimulus kecerdasan juga. Respon terhadap bunyi ini sudah mulai bisa ditunjukkan bayi pada trimester akhir kehamilan.
Tentang pembersihan telinga perlu ditambahkan bahwa membersihkan telinga dengan frekwemsi teralu sering akan memacu produksi lemak dalam liang telinga yang nantinya akan mengeras menjadi tai telinga yang akan susah dibersihkan. Beberapa ahli merekomendasikan membersihkan (lubang) telinga dengan cotton buds paling sering seminggu sekali.
semoga bermanfaat.
Terimakasih sekali mas Raden Mas.
Beliau adalah seorang dokter spesialis, jadi info ini sangat membantu.
Memang betul mba Ninda memakai cutton buds buat bersihin telingan lebih banyak madhorot dari pada manfaat. kenapa?….1. Kita tidak bisa melihat kotoran di telinga kita …..kalau dipaksakan membersihkan dipastikan tidak akan bersih wong lokasi nempelnya kotoran di liang telinga kita tidak tau 2. Bisa-bisa kotoran tidak berhasil dikeluarkan malah akan terdorong kedalam 3. Kalau terdorong dan lama-lama menumpuk dapat dipastikan akan mengeras yang akhirnya seperti dirasakan Mas Adhie sulit diambil dan juga jadi budeg. he he. Saya sangat mendukung tip sehat …..Hai Yang Bertelinga ….yang disampaikan Mba Ninda. Sukses ya Mba kapan tak tunggu tips sehat lainnya
Kak Nin, mungkin selain masalah telinga, masalah kesehatan yg lain perlu disosialisasikan di blog ini..tentu dgn narasumber dari Sarjito jg
Seperti waktu aku interview dgn Pak Heru, utk pengetan 2 th gempa, ternyata hal yg penting adalah melepas “pen”, agar tidak terjadi karat di dalam tubuh dan ini bisa berbahaya bagi tulang.. [bener to pak Heru ? ]
Kadang kita lupa hal-hal sepele, krn sudah pusing mikir kenaikan sembako heheh..
Thanks
Ya Ben, rencananya memang gitu, saya akan tulis di sini hal-hal yang penting kita ketahui, bersumber dari acara Dokter Kita yang tayang tiap Minggu malam di Jogja TV. Semoga bermanfaat.
Oya, kebetulan tema Dokter Kita besok Minggu (01/06) yad juga tentang patah tulang, terkait peringatan 2 tahun gempa. Nonton ya, jam 20.30-21.30.
Tetap sehat ya….
Bener Mas Benny tema dokter kita minggu besuk(01/06/08) Komplikasi Patah Tulang (refleksi 2 tahun pasca gempa). Hal ini penting sekali diketahui terutama korban ataupun siapapun yang terpasang baik itu namanya Pen atau Plat , walaupun terbuat dari bahan seperti titanium tetap saja mempunyai sifat korosi bila terus menerus bersinggungan dengan darah yang notabene mengandung berbagai zat kimia . kalau tidak diambil akan terjadi Osteomyelitis atau radang tulang dan sumsum tulang dan…. tidak bisa disembuhkan karena tulang tidak tertembus antibiotika secanggih apapun ada semboyan Sekali osteomyelitis selama hidup akan osteomyelitis. Jadi key words …ambil plat atau pen setelah 2 tahun.
ehm kalau kuping kemasukan semut (liang kalee..) gmn? ya…temanku pernah loh mba, la ditanyain gimana ngeluarinnya, ya bingung lah aku..(klo bisa disuruh, tak suruh deh semutnya keluar…), temenku sempat coba keluaran dg di cotton buds, tp g berhasil…pdhl katanya nyiksa banget…ngelebihi denger gemuruh pa lg kl semutnya msh hdp n lg ngolet-ngolet (katanya seh geto…)
satu lagi, kalo nggak salah ingat, ada bagian telinga yg peka perubahan tekanan di luar, makanya kl nae pesawat, kadang kyk budi alias maaf budeg dikit ..biar plong da tip katanya makan permen. tapi ada jg yang saking sensitifnya dia punya telinga, permen ga manjur, nah kl yg kayak gini, mesti diapain ya? kamsudnya yg sensitif sekali itu….mpe kl turun dr pesawat, sakiiiiit bgt…mb nin mgkn punya tips….
Para dokter terutama ahli THT, tolong dong jawab pertanyaan Tutik…
Apa betul kalau kuping ditutup kapas saat pesawat take off dan landing akan membantu? Atau malah memperparah?
Nanti aku tanyain ke dokter-dokter THT ya Tut, sabar ya…:)
gimana juga cara ngeluarin air, kalo telinga kemasukan air sewaktu mandi atau keramas … tapi kalo di kolam renag kok gak kerasa ya??
cara gampang biasanya sambil “headbanger” supaya airnya keluar dari telinga..
to pak Heru + kak Nin : oke ntar aku nonton hari Minggu, krn aku siarannya jam 9 malem kok..
thx
siap mba, okray deh….aku tak nonton dokter kita dulu, kemarin sempat nonton tapi cuma sebentar nggak mpe rampung hehehehe..pak heru ma mba nin pasangan serasi…..hehehe….