Gugun…
Maafkan aku…
untuk airmata yang tumpah saat mendengar berita sakitmu…

untuk penyesalan karena jarangnya kesempatan menyapamu…

untuk ketidakhadiranku menyaksikan pernikahanmu tahun lalu…

untuk…, …untuk…, …untuk…
Maafkan aku karena begitu banyak yang aku sesali,
saat aku tahu tak bisa berbuat banyak lagi,
apalagi memutar waktu untuk kembali. 

Gugun…
terimakasih telah menganggapku sebagai kakak…
Meski setelah lulus kuliah, setelah berpisah, badan dan hati kita berjarak…
Namun tak sepenuhnya kita tak bersapa…
karena kadang kita dipertemukan tanpa sengaja…
 

Gun…
ingin kubisikkan lagi semua kenangan itu, kamu dengerin ya…
Kamu mengedip saja kalau semua terasa berat dan melelahkan…
Tapi kalau itu pun tak sanggup kau lakukan…
jangan paksakan…
Biarkan lelah selama ini kau gantikan dengan lelap…
Biarkan hiruk pikuk selama ini kau genapi dengan senyap…

***

Gugun Gondrong, saya kenal saat sama-sama kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dia masuk jurusah Sejarah dua tahun setelah saya menjadi mahasiswa Sastra Prancis. Kegiatan ilmiah maupun diskusi santai di kantin, berjalan bersama di boulevard menuju halte bus atau saat mampir di rumah saya di Taman Siswa, penuh dengan canda dan tawa khasnya. Cintanya pada Bapak-Ibu Sukobagyo, dan adik tersayang Lulu, selalu mewarnai cerita-ceritanya.
Gun, kadang malu juga lho jalan sama kamu saat kamu teriak-teriak gitu sambil cekakakan. Tapi yaaaaa kata temanku, begitulah lulusan PL Jakarta, lepas dan bebas berekspresi… 

Lama tak saling berkabar setelah lulus kuliah, tapi saya ikuti perkembangan aktivitasnya. Ketemu lagi tahun 2004 saat saya promosi buku saya ”Bisik-bisik Remaja” di Jakarta, dan berkesempatan mampir di rumahnya yang penuh foto-foto aktivitasnya selama ini. Gugun membantu memperkenalkan buku saya kepada teman-teman wartawan di Jakarta.
Thanks Gun…Kamu tuh narsis sekali…hehehe…tapi narsis kamu bermanfaat banget
. 

Akhir tahun lalu saya kaget sekaligus bahagia mendapat sms darinya, mengabarkan akan segera menikah dan mau kirim undangan ke Jogja. Sayang saya tidak bisa hadir menyaksikan kebahagiaan adik saya ini. Saya hanya bisa sampaikan undangan untuknya dan istri tercinta, untuk berbulan madu di Jogja juga, kota yang saya yakin memberinya banyak kenangan indah.
I’m very happy for you Gun, akhirnya menikah juga
…. :)  

Maka tersentaklah hati saya mendengar kabar dia koma, menangislah saya ditengah bayangan-bayangan kebersamaan dulu yang tiba-tiba begitu jelas di mata saya. Dan…saya tak bisa berucap lagi…
Gun…kamu ada dalam doa-doaku..
.