Untuk Yang Jauh Disana
August 29th, 2008 0leh Ninda Jogja Kategori: Info & Uneg-uneg

Meski jauh tak tersentuh…
Meski kebersamaan hanyalah kerinduan…
Meski rasa memiliki tak bisa utuh…
Biarlah aku ucapkan…
Selamat ulang tahun….
Terimakasih untuk hari-hari penuh kehangatan…
Terimakasih untuk pelukan yang melegakan kesesakan…
Terimakasih untuk indahnya rasa dicintai dan dimengerti…
Sekali lagi…
Selamat ulang tahun…
Kategori: Info & Uneg-uneg
walau aku ulang tahunnya di bulan Maret, … tapi kok kayanya itu cocok buat aku ya mbak? ….wondering why? …..hmmm
Hahaha…mbak Sasanti kenapa jadi sensi begini sih?
adalah lebih bermakna, jauh dimata dekat dihati daripada dekat dimata sakit dihati. berbahagialah orang masih diberi kesempatan merindu, karena rindu adalah karunia Tuhan yang sangatlah rugi kalau tidak kita alami. tks
Bener banget mas Sony. Merindu itu indah…
Tks juga.
Siapa sih mbak yang dapet kehormatan dirindukan sama mbak Ninda sedemikian?
jgn berduka dlm nelangsa. kehangatan, pelukan yg melegakan dan indahnya cinta bukan semata dari Yang Jauh Disana, tapi dari Sang Pembuka Jendela.
jgn merugi atas nostalgi, jadikan pengalaman sbagai bekal menikmati kehidupan. kita tak kuasa memutar waktu sebab kita ada didalamnya. kita tak sanggup membalik hari sebab kita bersemayam digenggamnya.
mbak Ninda,
waah…ada saja hal yang baru dari mbak Ninda.
memang luar biasa kok penjenengan ini,tuh,,,semua jadi mau menjadi orang yang di rindukan mbak Ninda,,,,
Salam
Hahaha..Bu Dyah ada-ada saja…. maturnuwun Ibu…
Mas Dibyo, terimakasih atas kalimat2 indahnya…
Buat Miranda dan teman2 yang nanya2 terus lewat sms segala…
Puisi di atas saya dedikasikan untuk Bapak saya tercinta, Soetrisno Prawirosoesastro (29 Agustus 1927 - 9 Desember 1990), juga untuk Ibu saya yang saya rindukan, Poedji Ediati Soetrisno (11 Desember 1932 - 27 Agustus 1972).
Mbak, I’m so sorry ya… Aku jadi ngerti sekarang betapa dalam dan indahnya kerinduan mbak itu.
Btw, ada yang menarik di sini. Ibu meninggal 2 hari sebelum Bapak ulang tahun ya? Dan Bapak meninggal 2 hari sebelum ulang tahun Ibu kan? Interesting.
Pengamatan yang jeli, Miranda
Betul banget. Agak unik memang.
makasih mba ucapan ulang tahunnya…(hahahahaha….)
Beneran nih Tut, kamu ultah juga ya?
Oke, buat semua yang ultah di akhir Agustus, apalagi yang tepat tanggal 29, selamat selamat dan selamat… Semoga makin bisa menikmati dan mensyukuri kehidupan.
waduh, aku jadi terharu membacanya…
sama-sama yatim piatu mbak…
” simpanlah rindu…jadikan telaga…
agar tak usai mimpi panjang ini….”
Iya nih Ben, kadang rindu itu meruntuhkan airmata, kadang menerbitkan tawa, kadang menyesakkan dada, kadang mewarnai hari dengan titian nada…
(kok kita jadi berbalas puisi gini ya?..hehehe..)
Salam untuk keluarga ya…
mbak Ninda,
bicara tentang ulang tahun di penghujung Agustus….cucu saya juga ulang tahun ke 3.
Semoga cucu saya juga menjadi orang yang bijak…seperti ayah dan ibu mbak Ninda tentunya.
Teman teman….mbak Ninda ini memang Pendekar kata kata…begitu indah rangkaian kata yang ditulis.
salam
Bu Dyah…terimakasih sekali. Duuuh jadi tersipu-sipu saya dibilang “pendekar kata-kata”. Saya ini penulis aliran “pengawuran” je…hehe….
Oya, cucu Ibu yang sekarang jauh di seberang lautan itu kan? Waaaah pasti ngangeni sekali ya.
Semoga dia selalu jadi kebanggaan orang tuanya, keluarga besarnya, dan bangsanya…. Amiiien..
Salam untuk seluruh keluarga Bu..dan selamat menjalankan ibadah puasa…
aku jadi ikut melow denger puisinya mba ninda…
jadi tersindir dan merasa sebagai anak domba yang hilang..
punya orang tua lengkap
namun sejak lulus sd jarang sekali menemukan kebersamaan dengan mereka karena sekolah di luar kota..
kerinduan juga yang menumpahkan air mata saat tahun lalu mereka memberikan kejutan di usiaku yang seperempat abad
hiks…meski jauh disana
aku yakin doa cinta mereka panjatkan
thanks mba ninda atas sebuah puisi yang menggugah semangat membuat yang terbaik untuk ortu
Hai mas Agung, aku juga ikut terharu baca tulisan mas di atas
Salam ya untuk Bapak-Ibu. Semoga selalu dikaruniai kesehatan, dan rasa bahagia dicintai putra-putri tercinta.
akhir November nanti…. puisi ini akan saya cuplik ya?
setahun meninggalnya mami……
Boleh, silahkan mas…
Ketika membaca puisi ini, saya sangat ingin tahu siapa gerangan gentleman (lho, kok langsung ‘nuduh’ bahwa beliau adalah gentleman yang pantas digandeng …
). Ternyata puisi untuk almarhum ayah dan bunda. Indah sekali, Mbak Ninda.
Terimakasih mbak Tuti. Saya yakin kerinduan kita sama…
aku ki yho adoh…
ning kok ora ulang tahun
dadi yho aku gak oleh Ge ER
hehehehehe
ps: pokoke TOPBGT
Hai mas, sudah sampai negara antah berantah kah?
(nggak mungkin bohong lah sama aku..hehehe…)
Seneng ya bisa jalan-jalan terus. Pasti banyak cerita seruuuuu
Oleh-oleh jangan lupa ya.
Mba Ninda, aku membaca puisinya mba Ninda jadi kepikiran, ternyata sungguh berbahagia mereka yang masih mempunyai orangtua, karena bisa mengungkapkan rasa dengan nyata sementara kita hanya bisa mengungkapkannya lewat sebait goresan pena, dah takdir kita ya Mba, tks. GBU
Hai Nanda, tks ya sudah berbagi. Yaaa itulah absurdnya, kadang rasa terimakasih kita justru tidak terungkapkan ketika mereka masih ada.
Klik juga di artikel The Best Superhero in The World ya. Salam.
whaa…..penasaran banget dech..sapa sich sang arjuna beruntung itu..??ayo donk mb nindaa…di posting kisah cintanyaa…
mb..kalo boleh URL nya aqu link di blog qu yaa..makasih mb ninda…
Hai Santi…blog nya apa nih? Pengin mampir juga kesana. Silakan kalau mau nge-link. Makasih ya
Soal sang arjuna, arjuna apaan nih?:)
Kan udah saya jelasin di atas kalau puisi ini untuk Bapak-Ibu saya tercinta.
Ah Nindaa kamu elek deh….aku jadi mewek…inget your mom wkt dipangil Tuhan…kamu masih sangat kecil….tapi mampu menghibur mbak2mu ….”jangan nangis…kan Ibu ikut Tuhan Yesus”…TERNYATA …. sekarang bener2 dah jadi peghibur bagi banyak orang….God Bless You….